Jumat, 30 Maret 2012

Peta Hijau Pejalan Kaki: Pertemuan II (*)


Ikon Volunteer Site Versi 3 [www.greenmap.org]


Peta Hijau Pejalan Kaki, Apa Kabar?
Kami kembali berkumpul di Le Warung untuk membicarakan beberapa hal terkait dengan Peta Hijau Pejalan Kaki. Kali ini lebih banyak teman yang datang. Ada Sita, Satriya, dan Mbak Liek dari Peta Hijau Yogyakarta, Mufti dan Untung dari Paguyuban Pengamat Burung Jogja [PPBJ], Febri dari Flora Indonesia, Mas Budi dari Komisi Pemberantasan Bensin Bertimbel [KPBB], dan Mbak Mel.

Di awal obrolan Mbak Mel menanyakan soal pandangan atau respon kami semua terhadap kegiatan pemetaan ini. Secara umum merespon positif meskipun masih belum diketahui masalah komitmen dari teman-teman di luar tim inti ini. Setidaknya sudah ada iktikad baik di awal.

Mbak Liek yang berhalangan hadir dalam obrolan pertama turut mendukung kegiatan ini. Ia menekankan tentang keluaran yang harus dihasilkan nantinya, yaitu berupa peta.

Saya hanya mengemukakan fakta bahwa dari segi Sumber Daya Manusia sangat terbatas. Untuk itu dalam kegiatan pemetaan perlu bantuan teman-teman Peta Hijau Yogyakarta dalam penyebarluasan informasi kegiatan guna menjaring relawan.

Satu hal yang saya tekankan juga ialah mengenai PetaHijau yang dijadikan payung kegiatan. Jika demikian maka setiap relawan idealnya mengerti dasar-dasar Peta Hijau terutama dalam hal esensi. Jadi selain menambah jaringan relawan juga bisa mendapatkan pengetahuan baru mengenai pemetaan.

Apa Itu Peta Hijau?
Pemetaan yang akan kami lakukan ini menggunakan metode Peta Hijau. Untuk kepentingan itu di bagian awal Mbak Mel menanyakan tentang pengetahuan kami mengenai Peta Hijau. Pertanyaan itu ditujukan selain untuk mengetahui popularitas Peta Hijau [:P] juga untuk memberikan pernyataan penting di awal mengenai Peta Hijau.

Hingga detik ini hampir sebagian besar orang akan menjurus kepada lingkungan dalam arti sempit –pohon, sungai, titik hijau- ketika mendengar “Peta Hijau”. Padahal “Peta Hijau” lebih dari sekedar itu. Peta Hijau itu salah satu metode dalam penelitian. Begitu cerita yang saya dapatkan dari teman-teman Peta Hijau Yogyakarta.

Bersiap Untuk Memetakan
Hal yang harus dilakukan berikutnya ialah mempersiapkan workshop untuk relawan. Di dalam workshop itu akan dibahas mengenai latar belakang pembuatan Peta Hijau Pejalan Kaki berikut perangkat-perangkat surveinya. Juga akan diperkenalkan tentang tiap aspek yang akan dipetakan, misal fasilitas pejalan kaki, potensi pusaka, flora, dan fauna.

Nah, berikut hal-hal yang harus disiapkan:
1.   Membuat batasan lokasi dan waktu survei.
2.   Menyusun bagan alir manajemen tim terkait dengan pembagian tugas –dalam hal ini internal tim inti-.
3.   Menyediakan perangkat-perangkat workshop seperti materi ice breaking, metaplan isu pedestrian, materi simulai untuk membuat daftar pertanyaan, dan contoh formulir survei.
4.   Membuat lebih dari 1 rencana, misal rencana A dan B. Rencana A dengan asumsi relawan yang terjaring dalam jumlah besar sementara rencana B dengan asumsi relawan yang terjaring dalam jumlah kecil. Itu akan digunakan untuk menentukan teknis pemetaan di lapangan.
5.   Membuat woro-woro yang sudah spesifik. Artinya di dalamnya sudah tercantum divisi-divisi yang dibutuhkan seperti divisi basis data, riset, olah data, desain, dokumentasi, dan survei. Jadi calon relawan dapat masuk ke divisi yang sesuai dengan minatnya. Perlu juga mencantumkan “iming-iming” sertifikat J.
6.   Mengadakan nonton bareng atau sekedar karokean untuk mengusir kejenuhan akibat rutinitas sehari-sehari. Kegiatan ini bisa dijadikan sarana untuk memperkuat solidaritas tim Peta Hijau Pejalan Kaki J.

Waktu: Rabu, 1 Februari 2012 [Pkl. 19.30 – selesai]
Tempat: Le Warung, Jl. Cik Di Tiro


(*) Disarikan dari notulensi Mbak Melly

0 komentar:

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys