| Suasana di kawasan Nol Km Jogja |
Pernahkan
membayangkan Malioboro tanpa kendaraan bermotor? Bagaimana gambaran suasananya?
Mungkinkah?
Sederet pertanyaan itu kerap menyapa saya. Saya yang
bukan warga asli Kota Jogja ini selalu mengidam-idamkan jalanan di Malioboro
itu bebas dari kendaraan bermotor. Orang lalu lalang di atasnya, menawar
barang-barang, berfoto bersama, dan nongkrong di bangku-bangku taman. Sesekali
andong dan becak melintas, menyisakan alunan suara sepatu kuda dan denting
klakson becak yang khas. Sepertinya menyenangkan jika imajinasi itu mewujud
dalam kehidupan nyata.
Berangkat dari khayalan itu maka saya menggabungkan diri –atas
nama Jaladwara- untuk turut serta dalam pembuatan Peta Hijau Pejalan Kaki di
Yogyakarta. Dalam proses pemetannya Jaladwara akan bekerja bersama teman-teman
dari Paguyuban Pengamat Burung Jogja [PPBJ], Flora Indonesia, Peta HijauYogyakarta, serta seorang teman penggagas yang berasal dari Jakarta.
Ada banyak tahap yang harus dilalui untuk merealisasikan
peta ini. Di awal sudah bisa dibayangkan akan ada berapa pertemuan hanya untuk
menggodok dan mematangkan ide pembuatan peta. Tapi proses ini bagi saya sangat
menyenangkan karena kami membangunnya tahap demi tahap dengan pembelajaran yang
menarik di tiap tahap.
Daya tarik menjadi dasar
pemikiran kami. Untuk menarik minat warga kota kembali berjalan kaki diperlukan
daya tarik yang memikat. Maka kami menawarkan aspek pusaka, flora, dan fauna
untuk “menghipnotis” warga kota. Kami juga mengampanyekan untuk menikmati kota dengan
cara yang woles (**) yaitu dengan
berjalan kaki.
Pertemuan awal kali ini difokuskan untuk berbagi ide
pemetaan fasilitas pejalan kaki di Jogja. Apakah memang perlu dibuat peta
tentang hal itu? Jika perlu apa yang harus dilakukan untuk mewujudkannya?
Teman dari Peta Hijau Yogyakarta, Joyo, menyoroti pendokumentasian
melalui foto atau video mengenai perilaku pengendara motor terhadap fasilitas
pejalan kaki. Sikap pejalan kaki mengenai fasilitas yang disediakan untuk
mereka pun wajib dicermati. Joyo menekankan pembuatan peta hijau pejalan kaki
yang dapat dipakai sebagai alat untuk mengubah perilaku pengguna jalan.
Hal yang perlu diperhatikan sedari awal ialah mengenai cara
mengomunikasikan peta ini nantinya. Dibutuhkan strategi komunikasi yang jitu
untuk penyebarluasannya. Muncul kekhawatiran jika hasil pemetaan menunjukkan
banyak jalur pejalan kaki yang dikategorikan buruk justru semakin memperkuat
alasan untuk tidak berjalan kaki di Jogja. Sebaliknya, jika yang diinformasikan
hanya hal-hal yang positif saja maka akan jadi pembenaran bagi pemerintah kota
untuk menyatakan bahwa tidak ada masalah di dalam kota.
Sementara itu Satriya dari Peta
Hijau Yogyakarta mengusulkan jika video dokumentasi yang telah dibuat bisa
diputar di layar publik di daerah Taman Parkir Abu Bakar Ali. Jadi semua warga
kota bisa menikmatinya.
Isu pedestrian potensial untuk
menjadi sebuah gerakan sosial menurut Febri dari Flora Indonesia. Ia menyoroti
aspek flora terkait dengan jalur pedestrian ini.
Menurut Febri terdapat beberapa
hal yang harus dipertimbangkan untuk penanaman pohon, seperti estetika, fungsi
ekologi, dan iklim mikro. Yang terjadi selama ini ialah banyak ruas jalan yang
diperkeras sehingga justru menyulitkan proses peresapan air ke dalam tanah. Maka dari itu, perlu
menciptakan daerah serapan air di sekitar jalan.
Febri mengamati bahwa tingkat
kepemilikan warga terhadapa jalan raya sangat minim. Mereka kemudian menjadi
tidak peduli jika terdapat masalah di jalan raya. Hal ini berbeda dengan
kondisi jalan-jalan di kampung.
Pendapat Febri diamini oleh Joyo. Ia
lebih percaya dengan mekanisme komunitas di jalan-jalan kampung. Menurut Joyo,
warga biasanya membuat kesepahaman di antara mereka untuk mengelola jalan
kampung. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya papan-papan instruksi yang dibuat
oleh warga, seperti “Matikan Mesin”, “5 Km Harap Pelan-Pelan”, “Ngebut Benjut”,
dan lain-lain.
Teman-teman dari PPBJ, Untung dan Mufti mengaitkan keberadaan pohon-pohon di jalur pedestrian sebagai penarik kehadiran
burung.
Kegiatan pemetaan ini juga
dinilai oleh Untung dan Mufti akan mampu mengembalikan nilai-nila ekologis yang sudah
mulai hilang di kota. Intinya untuk menghadirkan suasana nyaman di dalam kota. Menurut
mereka sebuah kota dikatakan nyaman jika warganya measa betah untuk berjalan
kaki di dalam kota.
Dari segi konservasi, Untung dan Mufti melihat bahwa upaya peningkatan fasilitas pedestrian akan menjadikan kota
sebagai tempat hidup bukan untuk manusia saja tetapi juga untuk makhluk hidup
lainnya.
Sementara itu Jaladwara akan
memberikan kontribusi dalam hal pemetaan tinggalan pusaka di sepanjang jalur
pedestrian –sesuai area yang akan disurvei-. Jaladwara mencoba menarik minat
warga kota untuk kembali berjalan kaki dengan menghadirkan kembali cerita-cerita
mengenai tinggalan pusaka di dalam kota.
Secara umum seperti itu
gambaran obrolan kami malam itu. Langkah selanjutnya ialah mengenai persiapan workshop Peta Hijau serta menentukan
hal-hal yang perlu dicermati dalam proses pemetaan.
(*) Disarikan dari hasil
notulensi Mbak Melly.
(**) Bahasa walikan [terbalik] khas Malang yang berarti selow atau santai atau lambat.
Pertemuan I:
Waktu: Kamis, 26 Januari 2012 [Pkl. 19.30 – 22.00 WIB]
Lokasi: Le Warung, Jl. Cik Di Tiro
![]() |
| Musyawarah I di Le Warung |



14.51
Jaladwara

Posted in:
2 komentar:
Sudah lama sekali saya tidak mendengar kabar mengenai Malioboro, sebuah tempat dimana berbagai macam komunitas membaur menjadi satu, suatu tempat dimana banyak aktivitas terjadi di dalamnya. Ketika saya berusaha untuk mencari-cari kabar mengenai Malioboro, secara tidak sengaja saya menemukan link blog ini dan terpancing untuk memberikan komentar. Secara konsep dan ide, saya rasa tulisan di blog anda tersebut di atas merupakan suatu terobosan yang berani dalam menyikapi realitas yang terjadi pada kawasan yang mempunyai aktivitas yang kompleks seperti halnya Malioboro. Di dalam kompleksitas sebuah kawasan tentunya terdapat banyak kepentingan di dalamnya, seperti pedagang yang ingin berjualan, wisatawan yang ingin jalan-jalan, seniman-seniman yang ingin mengekspresikan karyanya pengguna transportasi umum seperti, bis, taksi, becak, dsb, dan tidak sedikit diataranya yang bertujuan untuk mengais rejeki di sana. Saya rasa kompleksitas yang terjadi itu merupakan suatu bagian dari dinamika kebudayaan itu sendiri. Termasuk di dalamnya adalah keberadaan kendaraan bermotor yang merupakan salah satu produk budaya itu sendiri.
Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa anda seolah-olah menyalahkan pengguna pengguna kendaraan bermotor??
Bisa jadi keadaan Malioboro pada saat ini sudah cocok dan nyaman bagi sebagian besar warga Jogja sendiri yang tentunya mereka lebih tau dan paham betul apa yang mereka butuhkan, lalu mengapa anda yang mengaku bukan merupakan orang asli Jogja malahan mempunyai kepentingan untuk merubah keadaan Malioboro??
Hallo Mas Yudhis :)
Terima kasih untuk responnya.
Saya tidak bermaksud untuk menyalahkan pengguna kendaraan bermotor. Hanya saja jika melihat kenyataan perilaku mereka dalam berkendara terkadang tidak dapat ditolerir. Karena dimanjakan oleh tenaga mesin, terkadang teman-teman pengendara motor cenderung untuk mendewakan kecepatan di atas segala-galanya.
Jadi, jalan raya yang harusnya menjadi ruang bersama malah terokupasi total oleh mereka. Yang penting cepat, ga peduli orang lain mau selamat atau tidak sepertinya menjadi jargon yang dikedepankan. Saya tidak juga bermaksud untuk melakukan generalisasi di sini. Hanya berdasarkan fakta saja. Jika berminat saya bisa tunjukkan bukti bahwa teman-teman pengendara motor cenderung menjadi tidak bisa membaca ketika mengendarai motor. Sehingga melanggar aturan yang sudah tertera dengan jelas dianggap menjadi hal yang sah-sah saja.
Yang perlu dicermati ialah bahwa jalan raya itu tidak hanya dibuat untuk kepentingan mesin semata. Saya pikir harga manusia jauh lebih tinggi dari sekedar mesin-mesin :)
Apakah Mas Yudhis yakin bahwa motor adalah produk budaya kita? Atau produk asing yang kita adopsi dan pada akhirnya diputuskan untuk menjadi sebuah kebudayaan?
Pertanyaan kedua terkait dengan ketidakpribumian saya. Iya, saya akui bahwa saya bukan orang Jogja. Tapi menetap cukup lama di Jogja membuat saya mempunyai rasa memiliki. Saya pikir itu wajar. Toh, saya mendambakan Jogja yang lebih baik. Apa yang salah? Apakah impian atau harapan itu hanya boleh dimiliki oleh orang Jogja asli?
Saya pun sebagai pendatang cukup merasakan bagaimana Jogja ini berubah dari tahun ke tahun. Dalam pandangan saya, ironisnya, dia berubah ke arah yang lebih semrawut ketimbang ketika dulu pertama kali saya menjejakkan kaki di tanah lumbung budaya ini.
Saya juga tidak akan menempatkan diri di pihak yang tahu segalanya. Seolah saya begitu paham akan apa yang masyarakat Jogja inginkan. Seolah kondisi Malioboro yang bebas motor adalah keinginan mereka. Tidak, saya tidak ingin berasumsi terlalu jauh.
Tapi, saya pikir pertanyaan yang cukup menyentil bisa jadi seperti ini: "Apakah benar masyarakat Jogja benar-benar tahu dan paham apa yang mereka inginkan?" Lagi-lagi berdasarkan atas kenyataan yang saya alami di lapangan, bahwa semakin banyak tinggalan budaya yang hilang dan tergantikan dengan kultur baru saya menyangsikan itu. Contoh gampangnya pusat perbelanjaan. Apa benar masyarakat Jogja membutuhkan tempat-tempat seperti itu? Jika memang membutuhkan, apa benar kebutuhan itu muncul dari keinginan mereka sendiri? Apakah kita perlu curiga kepada "oknum" yang mengarahkan masyarakat kita ke arah kapitalisme? Sepertinya kita tidak bisa memperdebatkan hal ini tanpa data yang akurat.
Namun, saya sangat senang karena bisa berdiskusi dengan Mas Yudhis. Sepertinya menarik jika bisa bertatap muka langsung. :)
Salam :D
Posting Komentar