Jumat, 30 Maret 2012

Museum Benteng Vredeburg Telah Bersalin Diri



Salah satu diorama di ruang 2.
“Wow, jauh juga rute gerilya Jenderal Sudirman,” kata Jaim saat mengamati maket tentang Perang Gerilya Jenderal Sudirman di luar ruang diorama 3, Museum Benteng Vredeburg. Tapi kali ini saya tidak akan membahas mengapa maket itu justru diletakkan di luar dengan informasi yang minim. Saya akan mengeksplorasi interior yang telah dibenahi di sini.

Diorama yang terang benderang tampak mencolok di tengah nuansa remang-remang ruang koleksi Museum Benteng Vredeburg. Cara penyajian diorama menyilaukan mata dan justru membuat pusing. Informasi yang disampaikan pun tak menarik untuk dibaca karena tampilannya yang sangat kuno. Saya sungguh tak mendapatkan satu hal positif yang dapat melekat di ingatan. Itu kesan terakhir saya ketika berkunjung ke sini, sekitar 2009. Namun sekarang kesan itu lenyap.

Salah satu diorama di ruang 2.
Ternyata kenaikan harga tiket masuk menjadi Rp 2.000,- berdampak pada keseriusan pihak museum untuk meningkatkan kualitas penyajian koleksinya. Setidaknya sudah terbukti pada ruang diorama 1 dan 2.

Kedua ruang itu saat ini disulap pencahayaannya seperti pada museum-museum kelas dunia. Warna cahaya yang lembut serta jauh dari kesan remang-remang dan suram membuat saya betah berlama-lama menikmati koleksi museum ini.

Pengunjung berdiskusi dengan leluasa.
Diorama-diorama yang disajikan pun dilengkapi dengan nomor urut. Meskipun tidak terdapat keterkaitan langsung antar diorama, namun dapat membantu saya untuk mengendapkan informasi agar tidak saling tumpang tindih. Penomoran itu juga membuat saya tidak bingung dan bersedia membaca informasi yang telah disediakan.

Selain itu tiap ruang dilengkapi dengan fasilitas multimedia berupa informasi yang ditampilkan melalui layar sentuh. Bentuknya berupa layar yang dipasang langsung menempel dinding dan diletakkan di atas kotak yang desainnya menyesuaikan dengan bentuk gerbang masuk benteng.

Fasilitas multimedia.
Terobosan lainnya ialah dengan menyediakan kursi-kursi untuk pengunjung bersantai menikmati koleksi diorama. Menurut saya ini luar biasa. Satu hal yang jarang saya jumpai ketika berkunjung ke museum-museum yang terbilang cukup bagus di Indonesia.

Kursi untuk pengunjung di dalam ruang pamer museum.
Jika biasanya saya sering bingung membaca koleksi museum karena tidak diberikan papan penunjuk arah yang jelas maka saya tidak lagi mengalaminya di sini. Pihak museum cukup jelas memberikan penunjuk arah berupa panah-panah. Pengunjung dapat mengikuti panah-panah itu hingga mencapai koleksi akhir. Jadi, jangan takut nyasar di museum ini.

Hal-hal penunjang seperti alarm dan pemadam api juga disediakan di tiap ruang. Bahkan sekarang tiap ruang dilengkapi dengan pintu darurat.

Pintu darurat, penujuk arah, dan pemadam api.
Dulu saya sering malas jika berkunjung ke BentengVredeburg dan harus masuk ke museumnya. Bagi saya itu membosankan dan hanya buang tenaga serta waktu. Namun kini reformasi sudah dilakukan oleh pihak benteng. Satu hal yang patut diapresiasi. Semoga ruang diorama 3 dan 4 segera dibenahi. Setelah itu baru memikirkan strategi penarik umpan agar pengunjung museum meningkat. [Inu*]


*Kunjungan dilakukan pada 29 Maret 2012.

0 komentar:

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys