Tulisan ini bukan menceritakan
kemeriahan prosesi penyerahan gunungan oleh Keraton Yogyakarta pada masyarakat.
Bukan pula menceritakan tentang sejarah dan filosofi grebeg. Tulisan ini
mencoba memberikan sudut pandang yang berbeda mengenai pelaksanaan acara Grebeg
Maulud 2014.
Garebeg atau grebeg merupakan salah satu acara ritual Keraton Yogyakarta yang
selalu dinantikan tiap tahunnya. Tidak hanya oleh warga Yogyakarta ,
tapi juga wisatawan. Walau grebeg diselenggarakan tiga kali dalam setahun,
namun tampaknya Grebeg Maulud merupakan upacara grebeg yang paling ramai
dikunjungi. Kemungkinan karena diselenggarakan saat tanggalan merah, tepat
di hari kelahiran Rasulullah.
Sementara dua grebeg lainnya, Grebeg Syawal dan Grebeg Besar, diselenggarakan pada
Hari Raya Idul Fitri & Idul Adha, di mana seusai salat warga disibukkan
dengan berbagai acara di rumah, kampung atau lingkungan mesjid.
Biasanya rombongan bregodo dan abdi dalem yang membawa
gunungan keluar dari Keraton Siti Hinggil sekitar pk.10.00. Namun sejak pagi
warga telah mendatangi Alun-alun Lor.
Begitu juga halnya saya, sejak pagi telah bergegas menuju
Alun-alun Lor. Tak sabar ingin menyaksikan parade bregodo keraton yang
mengkawal gunungan persembahan sang sultan untuk rakyat.
Ya, saya senang mengamati satuan-satuan bregodo yang
berbaris dengan lantunan lagu yang berbeda satu sama lainnya. Selain itu, menarik juga untuk
belajar mengenali bregodo berdasarkan seragam dan berbagai atributnya.
Ini kali
ke-2 melihat Grebeg Maulud. Tahun lalu, walau agak terlambat, namun masih bisa
mendapatkan posisi yang sangat strategis, tepat di depan pintu sebelah selatan
menuju Bangsal Siti Hinggil (di depan Bangsal Ponconiti). Di tempat ini saya
berhasil menyaksikan prosesi barisan bregodo dan gunungan yang memasuki keraton
dari jarak yang sangat dekat. Bahkan sempat pula berbincang-bincang dengan 1-2
anggota pasukan bregodo saat menunggu prosesi dimulai.
![]() |
| Kiri: Bregodo Nyutra; Kanan: Bregodo Surakarsa dengan latar Bregodo Wirabraja yang berjajar di pinggir jalan. |
Seperti halnya tahun lalu, kali ini saya juga datang agak
terlambat. Pukul 8 pagi baru melaju dari rumah. Semoga saja saya masih bisa
mendapatkan keberuntungan seperti tahun lalu.
Saat memasuki Jl. Ibu Ruswo (dari Jl. Brigjen
Katamso), sudah tampak antrian kendaraan bermotor yang akan melintas. Kendaraaan
bermotor, khususnya mobil, yang ingin mengarah ke Alun-alun Lor dialihkan ke
Jl. Wijilan. Untung saya ngegowes
sepeda, yang artinya saya memiliki keleluasaan untuk memilih rute jalan yang
ingin ditempuh.
Di sepanjang jalan saya memutar otak, mencari lokasi yang
strategis dan aman untuk memarkir sepeda. Pastinya sih yang juga tidak dipungut
bayaran parkir. Tidak adil kan, kalau kita sudah ikut mengurangi polusi udara
dan suara di kota serta minim menggunakan ruang jalan (dan parkir), kok masih ditarik bayaran .
Saya pun melaju memutari Alun-alun Lor, melewati Jl. Pekapalan
hingga di depan pintu masuk Mesjid Gede Kauman. Di sepanjang
jalan tampak para tukang parkir liar – yang sepintas mirip dengan pedagang
villa di puncak - menawarkan villa, eh...area parkir. Semua area kosong habis
digunakan untuk parkir motor. Tidak hanya di pinggiran alun-alun, halaman rumah,
parkir kantor, termasuk Museum Kereta, bahkan di badan jalan pun motor-motor parkir
berjejer bagai etalase ’showroom’
motor.
Sementara di tengah Alun-alun Lor, masih penuh diisi oleh
stand-stand dan area bermain Pasar Sekaten.
Terdengar suara dari pengeras suara pengisi stand
serta penyelenggara acara yang tiap saat mengeluarkan berbagai pengumuman
terkait dengan acara grebeg.
Bising sekali. Sama sekali tak terasa nuansa sakral penyelenggaraan
Grebeg Maulud.
Akhirnya saya memutuskan untuk parkir di bagian selatan
Mesjid Gede, masuk dari Jl. Kauman. Berharap di area tersebut lebih kosong.
Ternyata dugaan saya keliru. Iyalah, di saat seperti ini mana ada ruang
dibiarkan kosong menganggur, pasti digunakan untuk area parkir atau lapak PKL. Hampir
seluruh area di depan Mesjid Gede, dipasangi tenda-tenda untuk pedagang
makanan.
Sepertinya tiap ruang kosong di sekitaran Alun-alun Lor menjelma sebagai mesin uang.
Kebetulan tepat di pintu masuk, terdapat parkiran motor. Sementara
di bagian tembok, tepatnya di dalam parit yang kering, tampak sepeda diparkir
paralel. Yah nasib jadi sepeda, walau ’ramah’ sekali pun, nyaris tak pernah
mendapat tempat di hati para pengelola parkir, apalagi pemerintah.
| Sepeda yang hanya mendapatkan sedikit ruang di parit yang kering :( |
Setelah tenang mendapatkan tempat yang aman untuk parkir
sepeda, saya pun bergegas menuju Bangsal Ponconiti. Sesaat tersembul rasa
senang, melihat orang beramai-ramai berjalan kaki dari arah Kauman menuju
alun-alun. ”Wah apik ki, harusnya
emang yang mau nonton jalan kaki aja ramai-ramai, gak naik motor, kan lebih terasa nuansa ritual tradisionalnya,”
begitu batin saya.
Untuk acara ritual yang sudah berlangsung ratusan tahun
seperti grebeg, memang lebih terasa nuansa tradisionalnya jika para pengunjung
datang dengan berjalan kaki. Seperti halnya 10-15 tahun yang lalu, ketika masih
banyak yang berjalan kaki beramai-ramai dari kota-kota kabupaten sekitar
Yogyakarta demi menyaksikan grebeg.
Saat hendak memasuki Bangsal Ponconiti, saya terkejut
melihat begitu banyaknya orang yang sudah mengambil posisi menyaksikan bregodo
yang bersiap akan masuk ke dalam keraton. Yang lebih membuat saya tertegun, ada
banyak sekali pedagang memenuhi area tersebut. Dari pedagang makanan, minuman,
es krim, rujak, balon, endog abang, sirih pinang, dsb.
Bahkan sekitar bangsal & loket masuk (depan Regol
Srimanganti), yang pada tahun lalu tampak masih ada ruang untuk duduk-duduk, tampak
padat dipenuhi para pedagang dan pengunjung.
Rasanya ingin pulang saja melihat kesemrawutan ini.
Saya pun jadi bertanya-tanya, apakah penonton acara
Grebeg Maulud tahun ini memang lebih ramai dari tahun kemarin? Ataukah jumlah
pedagangnya yang jauh lebih banyak? Untuk pertanyaan yang kedua, saya yakin jumlah
pedagang memang jauh lebih banyak.
Setelah terdiam beberapa saat di pintu gerbang Bangsal
Ponconiti, akhirnya saya memutuskan untuk bergerak menuju jalan di depan
Bangsal Pagelaran. Barangkali di sana kondisinya berbeda.
Masalah berikutnya adalah ternyata ruas Jalan Rotowijayan
sudah dipenuhi oleh kendaraan bermotor. Belum lagi di kiri kanan jalan berjejer
motor-motor yang parkir. Sementara trotoar digunakan lagi-lagi untuk pedagang.
Warga yang berjalan kaki pun – termasuk wong sepuh,
ibu-ibu yang menggendong anak, anak kecil yang digandeng orang tuanya - harus lihai
bermanuver di antara kendaraan bermotor atau para pedagang. Sepertinya acara
grebeg ini memang hanya ditujukan untuk motor-motor dan pedagang kaki lima.
Ironisnya, tidak ada yang peduli dengan orang-orang yang
ingin menonton dengan berjalan kaki. Atau, mungkin karena berjalan
kaki sudah tidak lagi menjadi bagian dari budaya masyarakat Yogyakarta.
Ketika tiba di depan Jl. Kauman, tampak motor-motor menutup
rapat ruas jalan. Semua pengendara motor tak sabar ingin merangsek masuk ke area
parkir di barat daya Alun-alun Lor. Tak ada ruang tersisa bagi ’apapun’ yang
ingin melintas. Mereka yang berjalan kaki terpaksa bersusah payah ’menipiskan’
badannya agar bisa lalu di antara motor-motor, menuju Mesjid Gede.
Sungguh ironis, untuk sebuah acara tradisi yang sudah
diselenggarakan turun-temurun, hampir seluruh area diperuntukkan bagi kendaraan
bermotor, bukan manusia. Jika kondisi dibiarkan seperti ini, jangan-jangan di
tahun-tahun mendatang orang menonton grebeg dan merayah gunungan dari atas motor? Karena tak ada lagi ruang bagi
manusia untuk berdiri apalagi berjalan.
| Motor yang penuh menutupi ruas jalan (di depan Jl. Kauman) |
Rasanya tak habis pikir, untuk sebuah acara ritual yang
selalu ramai, sepertinya tak ada yang
mengorganisir agar tidak perlu ada kesemrawutan yang akan mengurangi nilai
kesakralan tradisi grebeg.
Banyak yang bisa dilakukan agar masyarakat yang datang
dapat menonton dengan tertib dan nyaman. Toh acara ini memang ditujukan
bagi masyarakat Yogyakarta (dan wisatawan).
Harusnya tak sulit bagi keraton untuk memberikan himbauan
pada masyarakat yang ingin menonton demi penyelenggaraan grebeg yang tertib dan
khidmat. Misalnya saja sejak pk.06.00, semua ruas jalan menuju Alun-alun Lor
dinyatakan tertutup bagi kendaraan bermotor.
Serupa dengan penyelenggaraan Pasar Sekaten beberapa
tahun yang lalu, di mana seluruh area Alun-alun Lor tertutup bagi kendaraan
bermotor.
Jadi di area tersebut hanya diperuntukkan bagi pejalan
kaki. Becak dan andong hanya boleh masuk untuk menurunkan penumpang, namun
harus segera keluar area jika ingin menunggu penumpang.
Jika mendengar cerita penyelenggaraan grebeg di
tahun-tahun yang silam, banyak rombongan pengunjung yang berinisiatif untuk
datang dengan truk bak terbuka. Tentu saja ini sangat efektif untuk mengurangi
penggunaan lahan untuk parkir motor.
Bagaimana dengan para pedagang? Tentu saja pedagang,
khususnya pedagang makanan & minuman, amat sangat dibutuhkan keberadaannya
di sebuah acara keramaian seperti ini. Namun perlu diatur lokasinya agar tidak
ada kelompok yang beradu kepentingan. Toh kehadiran pedagang makanan dan
minuman melengkapi kebutuhan para penonton.
Tapi mungkin ini bagian dari karakter Keraton Yogyakarta di
zaman modern yang ingin masyarakatnya dapat menikmati acara rutin grebeg, tanpa
harus banyak mengatur. Semuanya dibiarkan berjalan organik. Jika acara bisa berjalan
dengan tertib dan nyaman, maka itu dikarenakan masyarakatnya sendiri yang bisa mengatur
diri, bukan karena titah dari keraton. Tapi apakah itu mungkin?
Pedagang dan
pengunjung yang tumpah ruah
Setelah berjuang mengarungi stand-stand Pasar Sekaten (yang posisinya juga semrawut tak
teratur) - bahkan sempat tersesat mencari jalan menuju area di depan Siti
Hinggil - dan menerobos lautan penonton yang telah memadati area di sekitaran
Siti Hinggil, akhirnya saya berhasil mendapatkan tempat yang sedikit longgar tak
jauh dari Beringin Kembar.
Pyuuuhh....akhirnya bisa sedikit menarik napas lega.
Lokasi tempat saya berdiri kebetulan merupakan titik strategis
di mana sebagian pasukan bregodo dan gunungan akan berbelok ke arah barat,
menuju Mesjid Gede. Dan sebagian lagi akan berjalan lurus menuju Kepatihan dan
Pura Pakualaman.
Kira-kira menjelang pk. 10.30, tampak bregodo Wirabraja
yang senantiasa mengawali prosesi grebeg sudah bersiap akan keluar meninggalkan
pagelaran keraton menuju alun-alun Lor. Para petugas pun (Polisi, Hansip &
Paksi Katon) sibuk meminta masyarakat yang memenuhi jalan untuk mundur
memberikan ruang bagi rombongan pawai yang akan lewat.
| Seperti inilah kepadatan penonton & pedagang di sekitar jalur prosesi grebeg di depan Siti Hinggil. Tampak di kejauhan, Pasukan Wirobrojo tengah bersiap meninggalkan pagelaran keraton. |
Tentu saja ini sebuah himbauan yang sulit untuk dipenuhi.
Bayangkan, tak jauh di belakang kerumunan berdiri terdapat stand-stand Pasar Sekaten, ditambah para pedagang keliling yang
membawa gerobak atau sepeda. Alhasil masyarakat hanya dapat bergerak mundur sejauh
10-20 cm saja.
Dua mobil pun mulai berjalan maju bersisian untuk membuka
jalan. Cara ini biasa digunakan untuk mengatur penonton dalam prosesi seperti
ini. Namun karena tak ada tanda-tanda para penonton bergerak mundur, maka seluruh
petugas pun mulai sibuk mendesak seluruh penonton di kiri kanan jalan agar
segera mundur. Tetap saja masyarakat tidak berhasil mundur hingga berada di
belakang batas jalan yang ditentukan.
Akhirnya petugas pun beramai-ramai mendorong paksa tubuh
penonton yang berada paling depan (termasuk saya) agar yang di belakang ikut
mundur.
Para pedagang yang berada di belakang penonton pun dibentak agar mundur. Namun stand-stand yang memenuhi alun-alun tentu saja tidak bisa digeser keberadaannya. Sementara mobil yang berjalan sangat pelan mencoba membuka jalan. Walau begitu, terasa seperti mengancam, ”Ayo mundur gak....jangan salahkan kami jika Anda tertabrak atau kaki Anda tergilas!”
Para pedagang yang berada di belakang penonton pun dibentak agar mundur. Namun stand-stand yang memenuhi alun-alun tentu saja tidak bisa digeser keberadaannya. Sementara mobil yang berjalan sangat pelan mencoba membuka jalan. Walau begitu, terasa seperti mengancam, ”Ayo mundur gak....jangan salahkan kami jika Anda tertabrak atau kaki Anda tergilas!”
Bisa dibayangkan bagaimana kacaunya suasana saat itu. Padahal
di belakang saya ada barisan massa yang cukup panjang, sekitar 2 meter. Yang
paling kasihan adalah anak-anak kecil dan ibu-ibu yang harus menggendong
anaknya. Mereka adalah kelompok yang paling lemah ketika petugas mendorong
paksa untuk mundur.
Saat peristiwa saling dorong, terdengar suara anak-anak
yang menangis, entah karena terinjak atau terjepit tubuh orang dewasa, serta
ibu-ibu yang ngedumel, entah kesal dengan petugas, dengan yang berada di depannya
atau di belakangnya.
Suasana baku dorong tidak hanya terjadi sekali ketika di
awal prosesi saja. Karena masyarakat pelan-pelan akan bergerak maju kembali untuk
melihat prosesi yang berlangsung. Tentu saja penonton yang berada di belakang
juga butuh ruang untuk bernapas, sehingga mungkin mereka mendesak pelan agar
yang di depannya maju.
Di tengah-tengah acara, ketika rombongan gajah (hanya 4
ekor gajah sih, tapi tetap saja butuh ruang yang besar), lalu barisan gunungan
dan rombongan kuda keraton akan lewat, maka petugas pun harus berulangkali
mengingatkan dan memaksa penonton untuk mundur.
Sepertinya kondisi yang saling dorong antar penonton bagi
penyelenggara dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Belum lagi aksi berdesak-desakan
antara penonton dan pedagang. Mungkin hal ini juga sudah menjadi tradisi grebeg
dari tahun ke tahun. Jangan-jangan kesemrawutan menjadi salah
satu bukti kesuksesan penyelenggaraan
grebeg. Semoga saja tidak.
Dan saya pun bertanya-tanya, dengan jumlah penonton yang
hampir selalu sebanyak ini, kenapa Pasar Sekaten tidak disudahi di hari
sebelumnya. Dengan begitu, ada lebih banyak orang yang bisa ditampung untuk
menyaksikan grebeg tanpa harus berebut ruang dengan para pedagang.
Jika Pasar Sekaten adalah bagian penting yang tidak bisa
dihapus dari pelaksanaan grebeg, penyelenggara bisa memikirkan strategi lain.
Misalnya, stand-stand diberikan
lokasi yang tidak berdekatan dengan rute prosesi pawai grebeg. Sementara area di
kiri-kanan jalur prosesi hanya diperuntukkan bagi masyarakat yang ingin
menonton.
Tentu saja ini berarti jumlah stand-stand yang disediakan harus dikurangi. Saya yakin keberadaan
Pasar Sekaten berbeda dengan kegiatan bazaar pada umumnya. Pasar Sekaten
pastinya bukan dimaksudkan untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dari
penjualan stand.
Jika saja penyelenggara acara atau pihak keraton mau
sedikit repot, acara rutin seperti grebeg, yang diselenggarakan tiga kali dalam
setahun, pastinya bisa lebih
dikendalikan.
Jika diatur sedemikian rupa, ruang di Alun-alun Lor
sangatlah memadai untuk menjamin kenyamanan semua pihak. Sehingga tak perlu
terjadi peristiwa baku dorong antara petugas, penontong dan pedagang.
Kesemrawutan di
grebeg: sebuah ’wangsit’ untuk berbenah diri?
Seusai acara grebeg, saya pun mengaso sesaat melepas
dahaga di sebuah kedai jus favorit di dalam Kauman. Karena banyaknya pembeli
yang antre, sementara sang ibu penjual yang bertugas seorang diri harus
bergerak cepat ke sana kemari, maka saya pun menunggu dengan sabar. Di kedai,
sempat terdengar kabar bahwa jalanan macet total. Tentu saja karena semua
penonton yang menggunakan kendaraan bermotor keluar pada saat yang bersamaan.
Kira-kira sejam waktu yang saya habiskan di tempat jus,
baru kemudian menggowes pulang. Saya
tebak, kondisi jalanan harusnya sudah lebih lancar dari sebelumnya.
Tebakan saya keliru. Ketika memasuki Jl. Rotowijayan,
jalan sudah mulai padat. Dan ketika berada di tikungan di depan Gadri Resto,
langsung saya menyesali jalur yang saya pilih (atau menyesal karena masih
kurang lama menunggu di kedai jus). Tampak jalanan dipadati oleh kendaraan
bermotor (walau ada becak & sepeda juga) yang nyaris tak bergerak. Astaga!
Kemacetan seperti itu berlangsung cukup panjang hingga di
depan Pasar Ngasem. Untung saya mengendarai sepeda yang sudah pastinya lebih
luwes untuk menyelip di sela-sela kendaraan bermotor.
![]() |
| Kemacetan di Jl. Ngasem, sebagian pengedara yang tak sabar memilih melanggar aturan naik ke atas trotoar. |
Melihat kemacetan total seperti ini, saya tak jadi
menyesali rute yang saya pilih. Saya yakin jalan mana pun yang dipilih,
pasti akan mengalami kemacetan serupa. Dan benar saja, setibanya di
rumah, saya membaca berita online
mengenai kemacetan seusai Grebeg Maulud (Lihat berita 'Ribuan Warga Saksikan Grebeg Maulud Lalu Lintas di Nol Kilometer Macet' dan 'Pasca Grebeg Maulud Jalan Kauman Lumpuh Total'.)
Kemacetan seperti ini pasti senantiasa terjadi tiap acara
grebeg usai (dan acara keramaian lainnya). Dan jika tak ada upaya apa pun, bisa
diramalkan bahwa di tahun-tahun mendatang, kemacetan akan semakin parah.
Hal ini harusnya dapat menjadi semacam ’wangsit’ bagi keraton - di mana Sultan
HB X juga berperan sebagai Gubernur DIY - bahwa sudah saatnya pemerintah
menyediakan fasilitas angkutan umum yang memadai bagi rakyat Yogyakarta.
Sejatinya fasilitas tersebut menjadi bentuk nyata dari makna
grebeg yang merupakan upacara simbolis pemberian berkah dari Sultan. Dan ini menjadi
bukti keberpihakan keraton pada manusia bukan pada kendaraan bermotor.
Jika saja Kota Yogyakarta atau DIY memiliki fasilitas angkutan
umum yang memadai, sudah pasti kesemrawutan di tiap acara tradisi seperti grebeg
bisa dikurangi. Pihak keraton sangat mungkin meminta masyarakat yang ingin
menyaksikan grebeg agar tidak menggunakan kendaraan bermotor.
![]() |
| Gunungan Lanang dan Gunungan Wadon yang merupakan simbol pemberian berkah dari Sultan. |
Jika yang menghimbau keraton, sudah pasti akan dipatuhi
oleh masyarakat Yogya. Apalagi jika pemerintah sudah menyediakan angkutan umum,
maka masyarakat tidak lagi bisa berdalih untuk menggunakan kendaraan bermotor
ke keraton. Jika masih ada masyarakat yang tetap memilih menggunakan kendaraan
bermotor, ruang yang dibutuhkan untuk parkir pasti tidak semasif sekarang –
hingga tumpah ke badan-badan jalan.
Alhasil, ruang yang tersedia di kota - lingkungan keraton
dalam hal ini - lebih bermanfaat bagi kemaslahatan manusianya bukan kendaraan
bermotor.
Namun mengamati kondisi pemkot Yogyakarta dan pemprov DIY
saat ini, tampaknya penyediaan angkutan umum yang memadai merupakan sebuah
perjalanan panjang berliku bagi warga Yogya. Apalagi untuk penyelenggaraan
grebeg yang lebih tertib dan nyaman bagi masyarakat yang ingin menonton.
Dan untuk kasus seperti grebeg, rasanya tidak mungkin
berharap bahwa ketertiban dan kenyamanan bisa tercipta secara organik atau terjadi
dengan tiba-tiba, tanpa andil dari pihak keraton.
| Pejalan kaki yang berusaha mengarungi lautan motor yang memadati jalan seusai menonton pawai grebeg. |
Walau begitu, masih terselip harapan bahwa penyelenggara
grebeg bersedia berbenah. Sehingga acara grebeg yang makin ramai, justru tidak
berubah menjadi semakin semrawut dan semakin macet.
Semoga saja acara grebeg yang sudah berlangsung secara turun temurun sejak zaman Hamengku Buwana I, di tahun mendatang dapat jauh lebih terkendali, sehingga lebih terjaga
kesakralannya.
Tim Jaladwara: Armely Meiviana
Tim Jaladwara: Armely Meiviana



17.42
Jaladwara





0 komentar:
Posting Komentar