Sabtu, 11 Agustus 2012

Penangkaran Hiu Tak Layak Dikunjungi

Kolam penangkaran hiu di Pulau Menjangan Besar

Berenang bersama hiu menjadi salah satu aktivitas primadona yang ditawarkan oleh hampir seluruh agen perjalanan wisata Karimunjawa. Tapi apakah layak kita coba?


Sore itu sekitar 10 ekor hiu jenis blacktip reef shark (Carcharhinus melanopterus) berenang-renang di dalam kolam seluas kurang lebih 8 x 8 m. Kolam penangkaran hiu di Pulau Menjangan Besar itu merupakan salah satu titik kunjungan wajib jika berwisata bersama agen wisata ke Karimunjawa. Di sini Anda tidak hanya diajak untuk melihat-lihat hiu, namun juga diperbolehkan terjun ke kolam dan berinteraksi dengan mereka. Tertera biaya Rp 5.000 untuk dapat mengalami sensasi bersama para apex predator ini.

Cukup Rp 5.000 untuk sensasi luar biasa
Kegiatan berenang bersama hiu di penangkaran ini menuai pro dan kontra. Pro bagi kalangan yang mengedepankan kepentingan ekonomi. Kontra bagi para pecinta satwa dan pelestari lingkungan. Kunjungan saya bersama sebuah agen wisata ke penangkaran ini membuat saya menggali informasi lebih banyak tentang pro dan kontra serta legalisasi kegiatan. 

Berdasarkan informasi dari banyak sumber saya mengetahui bahwa hiu-hiu di kolam mini ini ada secara sengaja atau tidak sengaja lewat jaring nelayan. Mereka dibesarkan dan dilatih untuk atraksi wisata ketika masih kecil. Lihat saja, ketika wisatawan yang suka mengadu adrenalin turun ke kolam, maka pemandu akan melemparkan potongan daging ikan yang diikat tali kepada para hiu. Potongan daging itu seperti umpan yang ditarik ulur, hanya untuk mengecoh para hiu dan menyenangkan wisatawan.

Aktivitas di kolam hiu
Para wisatawan akan pasang beragam mimik. Mulai dari muka tegang, datar, bangga, atau senyum sumringah. Ada juga yang berteriak-teriak, pun ada yang tertawa terbahak-bahak. Yang lebih menyedihkan ada wisatawan yang rela mengangkat hiu untuk dijadikan “properti” pelengkap untuk berfoto. Pernahkah terpikir bagaimana perasaan para hiu? Mereka tercerabut dari habitat aslinya hanya untuk pemuasan kesenangan manusia. Kita tinggal menunggu saja sampai para hiu stres dan akhirnya balik menyerang manusia.

Hiu sebagai "properti" 
Nasib naas para hiu tidak berhenti sampai di sana. Jika sudah besar mereka akan dikirim ke kota besar untuk alih profesi penjadi penghibur di panggung yang lebih besar. Sebagian dari mereka bahkan harus berakhir di restoran. Sirna sudah julukan pemangsa puncak, berganti menjadi hewan yang dimangsa.

Penangkaran hiu yang lebih mirip wahana untuk melakukan kejahatan terhadap satwa di Karimunjawa ini ternyata diamini oleh pemerintah daerah, Dinas Kelautan & Perikanan, dan Balai Taman Nasional Karimunjawa. Para pihak terkait itu menganggap bahwa kegiatan penangkaran sudah terjadi sejak dulu. Jadi sudah menjadi hal yang lumrah. Dampak ekonomi yang diduga muncul dari aktivitas wisata pun menjadi penguat bahwa keberadaan penangkaran hiu ini sah-sah saja. Padahal kita tak pernah tahu pasti lapisan masyarakat yang mana yang memperoleh keuntungan. Bisa jadi hanya golongan tertentu yang memang memiliki modal kuat di sini.

Ada juga yang beranggapan bahwa penangkaran hiu ini berfungsi untuk mengakrabkan manusia dengan hiu. Menurut saya aktivitas pengakraban itu hanya slogan semata. Untuk bisa akrab kita harus mengenal para hiu, jenis, habitat, makanan, dan yang paling penting mengenai cara berinteraksi. Saya tidak menangkap adanya pengarahan dari pemandu wisata saat “menantang” wisatawan untuk turun ke kolam. Bahkan pemandu tidak menjelaskan nama jenis hiu ini yang ternyata menurut wikipedia masuk dalam kategori hiu karang yang tidak berbahaya.

Para pemandu hanya mengarahkan wisatawan untuk berdiri atau berjalan di tengah kolam sambil mengangkat tangan. Wisatawan tidak diperbolehkan berenang. Padahal sikap berjalan lebih beresiko ketimbang berenang untuk hiu yang punya nama lokal hiu sirip hitam ini.
 Para hiu lebih suka menyerang manusia yang “berjalan” santai. Terlihat jelas bahwa tawaran interaksi bersama hiu ini tak lebih dari pemuasan adrenalin saja dibanding kegiatan pengakraban.

Posisi yang salah kaprah
Dengan berkunjung ke tempat-tempat penangkaran hiu yang kadang menggunakan label "eko wisata" jangan kira kita ikut dalam sebuah upaya pelestarian. Justru yang terjadi kita turut mendukung rusaknya keseimbangan alam. Bahkan yang terburuk, kita pun berperan serta dalam mendukung penyebarluasan makanan berbahaya. Hiu yang berada di puncak predator memiliki kandungan racun yang paling tinggi. Jadi, sangat berbahaya untuk dikonsumsi. 

Mungkin hiu-hiu yang kita lihat di sini jumlahnya terbilang sedikit. Namun, bayangkan saja jika penangkaran hiu ini mampu menyedot banyak pengunjung. Setiap "pemilik" modal akan berlomba untuk menampilkan penangkaran hiu di tempatnya masing-masing karena akan mendatangkan keuntungan. Hiu yang awalnya tidak sengaja tersangkut jaring nelayan akan menjadi komoditas yang sengaja diburu. 

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi dampak “kejahatan” terhadap hiu itu? Tolak, itu kata yang paling tepat. Jangan pernah mau diajak untuk berkunjung ke penangkaran hiu, dimana pun itu. Masih banyak lokasi lain yang jauh lebih menarik ketimbang penangkaran hiu. Jangan rusak nilai-nilai perjalanan Anda hanya semata-mata untuk memuaskan adrenalin. Jika Anda berkecimpung di dunia agen perjalanan wisata maka jangan pernah memasukkan penangkaran hiu ke dalam salah satu titik kunjungan. Menolak untuk menjadi bagian dari pendukung keberadaan penangkaran hiu dalam rantai wisata merupakan tindakan sederhana yang mampu membawa perubahan.

Catatan:
Sumber informasi sebagian diambil dari percakapan di milis marinebuddies.

2 komentar:

jejawi mengatakan...

tinggal tunggu sampai para hiu jadi stress dan balik menyerang,, kaya di film deep blue sea.. bener banget, kata adik saya, ikan adalah hewan berdarah dingin, ketika tubuhnya dipegang oleh manusia (atau makhluk berdarah panas lainnya) ada snsasi terbakar pada kulitnya*, apalagi dipegang plus diangkat dari dalam air..
sedih yaa, ketika orang-orang ini berlomba memuaskan kesenangan semata tanpa banyak pertimbangan, ketika hiu-hiu dan ikan-ikan yang diperas demi aliran rupiah (padahal mereka ga ikut pakai rupiahnya..:( )...
*catatan: info dari adik saya suka nonton film dokumenter hewan dan alam :)

Jaladwara mengatakan...

halo @Jejawi...hehehe, salam kenal buat km dan adekmu ya. Iya ni, masih belum banyak pejalan yang menyadari hal ini. Kebanyakan memang masih memenuhi hasrat buat poto2 :(. Semoga dengan seiring berjalannya waktu perubahan perilaku bisa segera terwujud :D:D:D

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys