Rabu, 25 Januari 2012

Jelajah “Kota” Prasejarah Pacitan: Potret Hunian Gua Kawasan Gunung Sewu


Gunung Sewu atau Gunung Seribu adalah kawasan seluas  ± 1.300 km² yang membentang sepanjang 85 km dari Pantai Parangtritis (Yogyakarta) hingga Teluk Pacitan (Jawa Timur). Salah satu daerah yang masuk ke kawasan ini ialah Pacitan. Oleh para ahli, Pacitan dikenal juga sebagai “ibukota prasejarah” karena menyimpan peninggalan prasejarah yang sangat lengkap dari berbagai zaman. Sejak 10.000 tahun yang lalu kawasan ini dihuni oleh Homo sapiens sapiens atau manusia “Modern” Jawa. Berminat untuk masuk ke lingkungan manusia purba, melihat cara mereka memanggang sapi dan monyet atau menyaksikan keterampilan mereka dalam mengolah sebongkah batu menjadi alat-alat serba guna? Dalam trip kali ini, Jaladwara menyediakan mesin waktu untuk berkunjung ke peradaban 10.000 tahun yang lalu. Kita akan jelajahi gua, sungai, dan pantai lantas melihat dari dekat pola interaksi antara manusia dengan lingkungannya.

Yuk, kita mulai dongengnya...:)
Sebuah kerangka manusia ditemukan terkubur di Song Terus dalam posisi terlipat, kondisi utuh, menghadap ke dinding gua, dan disangga oleh beberapa batu. Daun pakis menjadi selimutnya. Tangan kanannya memegang alat-alat dari batu dan tulang sementara tangan kiri memegang tengkorak monyet. Di atas kubur itu terdapat bekas perapian yang dibuat untuk memanggang sebongkah daging sapi, slurrrrpppp :D. Kemungkinan daging sapi panggang itu ditujukan untuk keperluan ritual manusia penghuni  Song Terus sekitar 10.000 tahun yang lalu. Siapakah tokoh yang dikubur terlipat ini? Di Song Terus kita akan menemukan jawaban atas pertanyaan itu. Di sini pula gambaran fisik, kondisi kesehatan, serta diet yang ia jalankan semasa hidupnya akan kita kupas tuntas.

Tak jauh dari Song Terus –7 km- terdapat sebuah situs perbengkelan alat batu yang dikenal sebagai Situs Ngrijangan. Di daerah ini terdapat konsentrasi batu rijang dalam jumlah besar. Selain itu juga banyak ditemukan alat-alat seperti beliung persegi dan calon beliung persegi. Jadi, bila dibayangkan Situs Ngrijangan itu ibaratnya surga alat batu di daerah Pacitan. Hampir sebagian besar alat batu yang ditemukan di Song Terus berbahan dasar batu rijang. Jadi, besar kemungkinan Situs Ngrijangan dijadikan salah satu kawasan “tambang” oleh manusia purba kala itu.

Di kawasan karst Gunung Sewu ini mengalir juga Kali Baksoka. Kali yang dijadikan “pelarian” oleh GHR von Koenigswald pada 1935 setelah stres dengan temuan-temuan di Sangiran ini ternyata merupakan “harta karun” arkeologis yang belum tersentuh. Saat itu Koenigswald mampu mengumpulkan alat batu hingga 200 buah hanya dalam waktu 10 menit. Kapak genggam dari masa paleolitik –budaya batu awal- dengan mudahnya ditemukan di permukaan tanah di pinggir Kali Baksoka. Namun, asal si kapak genggam itu menjadi misteri.  Maka Kali Baksoka tak ubahnya seperti “tong” sampah dari semua alat batu yang ditemukan di dalamnya. Dari kali ini pula istilah “Budaya Pacitanian” yang sohor di kalangan para ahli prasejarah kelas dunia itu muncul.

Kawasan dengan “seribu” gunung ini menyimpan ratusan gua-gua yang saat ini dikembangkan untuk kepentingan pariwisata. Salah satunya ialah Gua Tabuhan. Keunikan gua ini ialah beberapa stalagmit dan stalagtitnya dapat  menghasilkan bunyi sesuai tangga nada jika dipukul. Maka masyarakat setempat pun memanfaatkan gua ini sebagai salah satu atraksi kesenian. Selain sebagai tempat wisata, Gua Tabuhan juga memiliki keterkaitan dengan Song Terus yang berjarak sekitar 50 m. Song Terus, oleh Francois Semah –seorang peneliti Prancis- diibaratkan sebagai tempat pembuangan “air besar”. Antara Song Terus dan Gua Tabuhan dihubungkan dengan sebuah sistem sungai bawah tanah.

Penasaran dengan pola diet manusia purba? Di Pantai Watu Karung, sebuah pantai terpencil dengan kualitas ombak internasional untuk olahraga surfing ini kita akan mencari tahu soal pola konsumsi manusia purba. Bagaimana hubungan manusia purba yang tinggal di pedalaman dengan yang menetap di pesisir? Apakah keduanya berhubungan? Lalu adakah hal menarik dari sekedar sampah kerang? Semuanya akan kita dongengkan di Pantai Watu Karung.

Sebagai penutup perjalanan, kita akan menyaksikan bentuk mini dari kawasan karst Gunung Sewu di Museum Karst Indonesia. Di museum ini kita akan diantarkan ke kawasan karst yang ada di berbagai dunia umumnya dan Indonesia khususnya. Kita juga akan berbincang soal pemanfaatan kawasan karst masa kini serta ancaman-ancaman yang sedang dihadapi oleh kawasan karst dan manusia pendukungnya. Hmmm, jadi, ga perlu pikir dua kali. Mari bergabung bersama kami dalam trip Jelajah “Kota” Prasejarah Pacitan: Potret Hunian Gua Kawasan Gunung Sewu. Berikut rangkaian acara yang akan kita jalani bersama:

Sabtu, 24 Maret 2012
06.00 – 07.00      : Registrasi peserta di Benteng Vredeburg
07.00 – 10.00      : Menuju “Kota” Prasejarah Pacitan
10.00 – 10.30      : Musik di Tabuhan [Singgah di Gua Tabuhan dan eksplorasi]
10.30 – 10.45      : Perjalanan menuju Song Terus
10.45 – 11.45      : “Song Terus Rumah Nyamanku” [Eksplorasi Song Terus, Rekonstruksi Hunian Homo sapiens sapiens di Song Terus, membaca lingkungan masa lampau Song Terus, games]
11.45 – 12.00      : Perjalanan menuju Situs Perbengkelan Ngrijangan
12.00 – 13.00      : “Mari Membuat Alat Batu” [Eksplorasi Situs Perbengkelan Ngrijangan & Membuat Alat Batu, games]
13.00 – 14.00      : Makan siang, istirahat, dan ibadah
14.00 – 14.15      : “Mari ke Kali Purba” [Perjalanan menuju Kali Baksoka]
14.15 – 15.00      : “Di Sini Mereka Terdampar” [Eksplorasi Kali Baksoka & Asal Usul Budaya Pacitanian]
15.00 – 16.30      : Pantai oh Pantai [Perjalanan menuju Pantai Watu Karung]
16.30 – 19.00      : Acara bebas [naroh barang, jalan-jalan di tepi pantai, mandi, istirahat, ibadah]
19.00 – 20.00      : Makan malam
20.00 – 22.00      : Ndongeng Karst sambil Bebakaran [jika kondisi cuaca cukup bersahabat kita akan bercakap-cakap seputar Pantai Watu Karung dan kawasan Karst sambil bakar-bakar jagung dan pisang dan ubi dan lain-lain :D]
22.00 – 05.00      : Zzzzzzzzzzzzzzzz.....waktunya masuk kantong tidur :D

Minggu, 25 Maret 2012
05.00 – 06.00      : Selamat Pagi Pantai Watu Karung [mungkin bisa berburu momen matahari terbit :D]
06.00 – 07.00      : Acara bebas [bisa maen-maen di tepi pantai, ngeteh2 sambil nyemil :D]
07.00 – 08.00      : “Meramu Sup Purba” [Kompetisi masak ala resep-resep lawas plus ngobrol-ngobrol tentang pola diet manusia purba plus]
08.00 – 09.30      : Mandi dan sarapan pagi
09.30 – 11.30      : “Menilik Kawasan Karst Gunung Sewu” [Perjalanan menuju Museum Karst Indonesia]
11.30 – 12.30      : Makan siang dan ibadah
12.30 – 14.00      :  “Yuk Cari Tahu Soal Karst” [Eksplorasi Museum Karst Indonesia, games]
14.00 – 18.00      : Pulang ke Jogja....:D

Fasilitas yang bakal didapetin:
1.       Transportasi AC [Jogja – Pacitan – Jogja]
2.       Makan besar [4 kali]
3.       Tiket masuk semua objek wisata
4.       Snack
5.       Penginapan [rumah penduduk, sistem berbagi]
6.       Interpreter Jaladwara
7.       Peta dan Buku Panduan
8.       Cenderamata
9.       Isi ulang air minum
10.   Kawan baru + Pengalaman + Informasi baru :D

Fasilitas tidak termasuk:
1.       Kantong tidur/sleeping bag [bagi temen-temen yang belum punya, Jaladwara bisa membantu untuk menyewakan, per hari Rp 6.000]
2.       Makan pagi di hari keberangkatan.

Berhubung nanti kita akan nginep di tepi pantai maka ada beberapa hal yang perlu disiapken sebelum berangkat:
1.       Tas ransel buat naruh bekal pribadi, seperti obat-obatan pribadi, wadah makan & sendok, payung, buku catetan, kamera, lotion anti nyamuk, selimut, jaket, jas hujan/rain coat, & alat tulis.
2.       Pakaian ganti bagi yang pengen ganti :P [karena kita menginap semalem, jadi bawa bekal pakean secukupnya saja].
3.       Makanan ringan.
4.       Botol minum, karena Jaladwara menyediakan air isi ulang. Hemat uang hemat sampah...:D
5.       Sandal atau sepatu yang nyaman buat dipake jalan-jalan.
6.       Topi bagi yang ga gitu tahan sama cuaca panas.
7.       Kresek bekas untuk wadah sampah pribadi [sampah akan dipilah dan dikumpulkan bersama].

Bagi yang berminat untuk gabung, bisa mendaftarkan diri melalui:
1.       Hubungi:
a.       Jaim [jaimpoutz@gmail.com ; 085643040230]
b.      Inu [minoritaskiri@gmail.com ; 085643311441]
2.       Selanjutnya, melakukan transfer ke rekening berikut:
Bank BCA: 0373062143 [Cabang Jogja a.n Kristanti Wisnu Aji Wardani]
Bank Mandiri: 1430004313217 [Cabang Lumajang a.n Bayu Erliaji]
3.       Melakukan konfirmasi ke Inu dengan cara mengirimkan pesan singkat (SMS) berisi:
a.       Kata kunci: PACITAN
b.      Nama Lengkap:
c.       Bank Tujuan:
d.      Tanggal/Bulan Transfer:
e.      Jumlah Transfer:
Contohnya seperti ini: PACITAN/SOIMAH/BCA/17MARET/345.000
4.       Tanda bukti transfer harap disimpan dan ditunjukkan saat registrasi ulang.
5.       Tiket yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan lagi, namun bisa banget kalo dihibahkan kepada orang lain.

YANG PERLU DIINGET:
Pendaftaran dibuka pada 1 Maret 2012 dan ditutup pada 17 Maret 2012. Demi kenyamanan bersama kami hanya menyediakan 30 tiket saja.

Biaya untuk tiket:
Titik awal Jogjakarta: Rp 345.000 [kumpul di Benteng Vredeburg]

Teriring salam,
JALADWARA: Buka Mata Kenali Nusantara

0 komentar:

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys