Sabtu, 22 Oktober 2011

Trip Benteng Cilacap: [Hari Pertama]

Terimakasih untuk seluruh kekuatan semesta yang mendukung trip ini berjalan di jalur yang tepat.

Cerita Keberangkatan
Akhirnya trip “Melacak Jejak Napoleon di Cilacap terlaksana juga. Cerita menyusun trip ini dari awal sampai akhir kalau diceritakan bisa menghabiskan waktu satu putaran purnama [lebay...:P] jadi saya akan ambil yang masih dan bakalan melekat terus dalam ingatan saya.

Sebagian peserta berpose di depan Benteng Pendem

Teman-teman yang mengikuti trip ini berasal dari Jakarta, Bandung, Ungaran, Klaten, dan Jogja. Dari banyak tempat tujuan dan beragam moda transportasi yang dipakai, tujuan akhirnya tetap di Cilacap dan Nusa Kambangan. Saya sempat harap-harap cemas ketika malam Sabtu dihubungi oleh Mas Ijal [Jakarta] kalau ternyata mereka tidak mendapatkan tiket kereta ke Jogja. Waduh, di gerobak nasi goreng tepi Jalan Monjali otak saya tidak mau diajak berpikir. Saya tidak bisa memberikan solusi saat itu juga. Namun, mereka [Mas Ijal, Mas Yugo, Mas Danny] berpikir lebih cepat. Mereka memilih “ngeteng” ke Cilacap dan tiba lebih dulu dibandingkan tim yang berangkat dari Jogja.

Tim Jogja [Inu, Vinsen, Natali, Rinta, Mas Wiwik, Mas Angga] punya cerita lain. Perkiraan sampai Cilacap sekitar pukul 12.00 jika berangkat dari Jogja pukul 08.00 ternyata meleset. Kondisi jalan di Kebumen yang bergelombang membuat kendaraan tak bisa melaju dengan semestinya. Belum lagi operasi polisi di Jalan Raya Buntu yang memotong waktu lumayan banyak. Yang paling menyebalkan ialah truk gandeng yang tak bisa kami salip [hanya motor yang mampu menyalipnya]. Si truk gandeng ini jadi penyebab utama keterlambatan kami –hingga setengah jam- di Cilacap. Tim Bandung [Mas Fajar dan Mas Hndru] sepertinya tidak mendapatkan banyak kendala. Mereka naik kereta dari Bandung dan sepertinya sampai dengan selamat di Cilacap, :P. Nantinya tim Bandung ini menyuplai tawa cukup banyak dalam acara kami di Cilacap.

Satu lagi tim dari Jakarta yang punya cerita menarik, Bu Fadjar dan Dek Dhika. Mereka naik travel jurusan Cilacap dari Jakarta. Ternyata sopir travel malah membawa mereka jalan-jalan seputar pantura. Mereka menyinggahi Cirebon, Brebes, Tegal, dan terus berputar-putar di daerah itu. Cilacap masih di ujung sana. Namun, dengan sekuat tenaga dan semangat yang tak padam-padam [lebay....:D] akhirnya mereka bisa bergabung bersama tim lain saat makan siang di Teluk Penyu.

Setelah melewati serangkaian proses perjalanan yang berbeda-beda akhirnya semua anggota tim “Melacak Jejak Napoleon di Cilacap” dapat berkumpul juga di Pantai Teluk Penyu, Cilacap, bersiap memulai aktivitas pertamanya siang [15/10] ini.

Mengenal Nilai Penting Cilacap Lewat Eksplorasi Benteng Pendem
Kami makan siang ala prasmanan di Pantai Teluk Penyu. Lauknya ikan gembung dan bawal dengan sambal dan lalapan serta kerupuk ikan. Setelah mengisi tenaga perjalanan kami lanjutkan menuju Benteng Pendem. Berbekal sebuah kertas art paper yang memuat dua peta kami memulai penjelajahan di Benteng Pendem. Kami menggunakan peta dalam ukuran yang lebih kecil, yang bertemakan “Nilai Penting Cilacap Abad XVIII-XX”. Dari peta itu kami mereka ulang jalur pelayaran dari dan ke Cilacap pada 1830an. Ternyata hanya dengan sebuah peta kami mendapatkan banyak cerita, soal komoditas ekspor Cilacap, peran sungai, transportasi masa itu, jalur kereta, serta pelabuhan-pelabuhan pesaing Cilacap tempo dulu.

Makan Bersama

Gambaran awal mengenai kawasan Cilacap tempo dulu menjadi pengantar bagi eksplorasi sejarah dan arsitektur Benteng Pendem. Kami menyinggahi semua bangunan di dalam benteng yang tersamarkan oleh gundukan tanah ini. Kami menginterpretasikan fungsi ruang demi ruang. Misalnya saja di dalam ruang barak, Mas Hndru [Bandung] mencoba mengimajinasikan susunan tempat tidur prajurit masa itu. Saya membantu memberikan gambaran dari data fotografi di Benteng Pendem Ngawi sebagai analogi. Selanjutnya di bangunan pertahanan dengan ruang-ruang yang dilengkapi dua lubang bidik, Mas Fajar [Bandung] mencoba untuk mereka ulang jenis senjata yang ditempatkan di sana.

Berkeliling Benteng Pendem

Bagian yang cukup seru ialah ketika semua anggota tim diberikan pilihan untuk melewati terowongan yang ada di Benteng Pendem. Kondisi terowongan yang lembab, gelap, berlumpur, dan tergenang air menyebabkan hampir sebagian anggota tim urung untuk menjajal terowongan tempat si haxo casemates ini berada. Hanyalah Dek Dhika [Jakarta] yang tampak antusias untuk menjajal menelusuri terowongan gelap yang berair dan mengandung lumpur itu. Akhirnya dengan seluruh daya dan keinginan kami semua melewati terowongan ini dan merasakan sensasi dinginnya genangan air dalam terowongan yang sudah ada sejak 1875 ini.

Icip-icip Blekecek, Kuliner Khas Cilacap & Tebak Rempah
Tiga buah tenda kami dirikan tak jauh dari tinggalan sumur-sumur lama yang menjadi bagian dari Benteng Karang Bolong. Yep, malam ini [15/10] kami resmi menginap di tepi Pantai Pasir Putih. Akhirnya sebuah keinginan di awal tahun untuk bisa menginap setidaknya satu kali saja di tepi pantai terwujudkan juga. Kali ini ditambah bonus kenalan baru yang sangat menyenangkan.

Selepas magrib makanan yang didatangkan dari gerbang utama kawasan Benteng Karang Bolong pun tiba. Ikan masak kuah kuning yang masih hangat tersaji dalam sebuah baskom lumayan besar, cukup untuk mengisi perut-perut lapar kami sehabis mengeksplorasi Benteng Pendem tadi sore. Masakan yang dinamakan blekecek ini awalnya terkesan biasa saja –mungkin karena si ikan-ikan bertumpuk-tumpuk di dalam baskom-. Namun, ketika sudah menjejak di atas lidah, hmmmm, maknyos, sedap betul. Kuah kuningnya yang pedas begitu segar seperti ketika menyantap sup atau pindang. Rasanya pun masih terngiang-ngiang di kepala sesampainya saya di Jogja.

Blekecek sudah mendarat sempurna di dalam lambung. Saatnya menghangatkan badan di dekat api unggun sambil kembali mengingat rasa rempah yang selalu terselip di tiap masakan yang kami konsumsi.

Bermain tebak rempah


Ternyata bukan perkara mudah untuk bisa langsung menebak jenis rempah-rempah. Terbukti banyak dari anggota tim yang keliru menebak jenis rempah, bahkan ada yang sama sekali tidak bisa menebak. Ketumbar tertukar dengan kemiri, kapulaga tersembunyi dalam kamuflase aroma kayu putih, identitas jinten terkunci lewat rasa pahitnya, dan pala tampak asing bagi beberapa orang. Rempah-rempah itu begitu tidak asingnya dalam kehidupan keseharian kita, namun namanya jarang kita ingat.

[Diposkan oleh Inu]

4 komentar:

fajar mengatakan...

subhanallah sesuatu yah...hehehe...two thumbs up deh buat JALADWARA

Jaladwara mengatakan...

hehehe, makasi Mas Fajar. Jangan kapok yak, trip selanjutnya kudu ikutan lagi ni, bawa teman2 yang laen juga...:D:D

avezahra mengatakan...

aku mau dong ikutan yang ini......

Jaladwara mengatakan...

ayo ikutan, akan ada lagi di Mei 2012 lho...:)
Buruan ikutan yak, ajak temen2 yang laen juga...:D

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys