Siva Plateu, suatu kawasan di sisi selatan Candi
Prambanan, yang menyimpan banyak tinggalan arkeologis terutama tinggalan
monumental berupa candi. Candi-candi itu tersebar dalam radius sekitar 4 km.
Letaknya ada yang di bukit, ada juga yang di dataran rendah. Keberadaan
candi-candi itu ada yang sudah melebur bersama masyarakat, dikelilingi
permukiman, namun ada pula yang masih menyepi tak bergeming, tersamarkan dalam
rupa perbukitan. Lingkungan tempat candi-candi itu didirikan tentunya sudah
dipikirkan secara matang oleh para arsiteknya. Sifat tanah, ketersediaan air,
dan sumber bahan merupakan hal-hal yang dipertimbangkan sebelum membangun
sebuah candi. Semuanya terangkum dalam satu kitab “babon” pembuatan candi.
Sulit dibayangkan bagaimana manusia kala itu membangun monumen-monumen semegah
itu di lingkungan yang berbukit-bukit dengan sumber daya air yang minim. Kenapa
disebut Siva Plateu? Karena di daerah ini banyak mengandung temuan bangunan
suci bernafaskan Hindu, maka disebut sebagai Siva Plateau atau Dataran Tinggi
Siva, meskipun di masa selanjutnya juga ditemukan tinggalan bernafaskan Buddha.
Terhitung setidaknya terdapat lima candi berukuran
besar di kawasan Siva Plateu ini, antara lain Candi Sojiwan, Ijo, Barong,
Banyunibo, dan Ratu Boko. Masing-masing candi mempunyai karakteristik
tersendiri. Menjadi menarik ketika melihat sebaran candi-candi ini, apakah
mempunyai keterkaitan antara satu dengan yang lainnya.
Candi Sojiwan yang berlatar agama Buddha
diyakini berhubungan dengan Rakryan Sanjiwana. Di bagian kaki candi dipahatkan
relief-relief yang sebagian besar merupakan tokoh binatang (tantri). Ada
relief kera dan buaya, serigala dan banteng, angsa dan kura-kura, garuda dan
kura-kura, serta gajah dan kambing. Tiap panel relief itu mengandung pesan moral.
Berbeda dengan Candi Sojiwan, Candi Ijo yang berdiri di atas bukit Ijo
ini bernafaskan Hindu. Candi yang mempunyai keletakan tertinggi di antara
candi-candi yang ada di Yogyakarta ini secara tidak sengaja ditemukan oleh H.E.
Dorrepa, seorang Administratur pabrik pada 1886. Selanjutnya ada Candi
Barong yang dibuat untuk memuja Dewa Wisnu dan saktinya, Sri. Hal yang
cukup unik di candi ini adalah bentuk dari hiasan kala (kepala singa) yang
mempunyai rahang bawah. Lazimnya kala yang digunakan pada candi-candi di DIY
dan Jawa Tengah tidak menggunakan rahang bawah. Candi Banyunibo dengan
latar belakang agama Buddha, menampilkan Dewa Kuwera (dewa kekayaan) dan Dewi
Hariti (Dewi Kesuburan) pada pintu masuknya. Kompleks Ratu Boko yang
lebih sohor karena pemandangan matahari terbenamnya yang begitu memukau
menyimpan sejuta misteri yang hingga kini belum terpecahkan. Rakai Panangkaran,
putra dari Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya, yang memindahkan pusat kerajaan
Mataram dari daerah Medang (Poh Pitu) ke arah timur ini diduga kuat sebagai
pencetus pembangunan Ratu Boko. Nama Ratu Boko sempat disinggung dalam
prasasti Abhayagiriwihara yang berangka tahun 792. Berdasarkan
prasasti itu maka Ratu Boko ditafsirkan oleh beberapa ahli sebagai biara
karena prasasti tersebut berisi peringatan pembangunan biara. Namun, penafsiran
tidak berhenti sampai di situ. Kisah pertempuran antara Balaputradewa dengan
Rakai Pikatan, Rakai Pikatan dan Rakai Kayuwangi melawan Rakai Walaing Pu
Kumbhayoni, menjadikan kompleks Candi Ratu Boko ditafsirkan sebagai sebuah benteng
pertahanan. Belum lagi penafsiran berdasarkan beberapa prasasti lainnya dan
struktur keruangan candi. Semoga cukup untuk membuat bingung dan memancing rasa
penasaran teman-teman. :D
Bahwasanya candi-candi itu pada masanya dulu merupakan
pusat kehidupan sosial budaya masyarakat pendukungnya. Sama saja dengan masa
kini ketika kita melihat sebuah tempat ibadah. Orang-orang datang ke sini untuk
keperluan berhubungan dengan Sang Pencipta. Mereka bisa saja datang dengan
jalan kaki atau dengan kendaraan. Mereka bisa melalui jalan yang sama untuk
pulang dan pergi, atau memilih rute yang berbeda-beda. Dalam sebuah prosesi
keagaamaan, ada yang mendapat porsi untuk memimpin dan mengambil posisi di
depan, teramat dekat dengan si candi. Ada pula yang hanya kebagian tempat di
pojok, paling belakang, paling jauh, hingga tak dapat menyaksikan secara utuh
prosesi yang sedang berlangsung di depan. Jangan terlupa juga dengan
intrik-intrik yang selalu membayangi kehidupan agama, agama dengan politik
maupun agama dengan politik. Itu sudah terjadi di masa seribu tahun yang lalu.
Candi tidak beda jauh dengan kitab, buku, atau bahkan
komik, yang menyimpan banyak informasi dan pengetahuan penting. Di dalam bentuk
fisik - yang tidak diragukan lagi membuai mata - tersimpan setumpuk
cerita yang mampu merefleksikan masyarakat pendukungnya bahkan merefleksikan
kehidupan kita sekarang dan di masa depan. Kami mengajak teman-teman untuk
mencoba mereka ulang pola perjalanan para peziarah pada waktu itu. Tentunya
kita tidak hanya berjalan kaki saja. Kita juga akan melihat bentanglahan tempat
candi berada serta kaitan lingkungan dengan candi-candi yang ada di sini.
Gambaran acaranya seperti ini, kita akan berjalan kaki
menuju candi-candi tersebut. Medan yang akan dilalui bervariasi, dengan tingkat
kesulitan 1 – 5. Titik awalnya, akan kita mulai dari Pasar Prambanan menuju Candi
Sojiwan, tingkat kesulitan 1 dengan pemandangan sawah dan udara yang
dijamin masih bersih. Dari Candi Sojiwan kemudian kita akan berjalan menuju Candi
Ijo. Medan yang dilalui mempunyai tingkat kesulitan 1 – 5. Ada banyak
tanjakan. Kita akan melewati jalan setapak, perkampungan, sawah-sawah, hutan,
dan sebuah telaga. Jika beruntung, kita bisa melihat aktivitas warga memandikan
kerbau. Setelah berkenalan dengan Candi Ijo, kita akan turun melewati
penambangan batu kapur (limestone), kemudian melewati perkampungan,
sawah, telaga, dan sampai di Candi Barong. Medan yang dilalui mempunyai
tingkat kesulitan 1 – 3. Selanjutnya kita akan menuruni bukit, melewati
petak-petak sawah penduduk, perkampungan, dan sampai lah kita di Candi
Banyunibo. Tingkat kesulitan dari Candi Barong ke Banyunibo berkisar dari 1
– 3. Puncaknya, kita akan naik ke Ratu Boko. Medannya tidak terlalu sulit,
hanya saja memang menanjak, sekitar 1 – 3. Di sini kita akan berkeliling Ratu
Boko dan menikmati fenomena matahari terbenam. Estimasi waktu untuk
melakukan perjalanan ini, yaitu dimulai pukul 07.00 pagi dan diakhiri sekitar
pukul 06.00 sore.
Ini
yang perlu disiapkan sebelum berangkat:
-
Tas ransel buat naruh bekal pribadi, seperti obat-obatan pribadi, wadah makan, payung, buku catetan, kamera, alat tulis, cemilan.
- Botol minum dengan kapasitas sekurang-kurangnya 1 l. Kami menyediakan air isi ulang.
- Sandal atau sepatu yang nyaman buat dipake jalan-jalan.
- Wadah makan dan sendok.
- Topi bagi yang ga gitu tahan sama cuaca panas.
- Pakai sun block supaya kulit nggak terbakar sinar matahari.
- Kresek
bekas untuk wadah sampah.
Fasilitas yang kami sediakan:
-
Pemandu dari Jaladwara yang akan mendongengkan seputar Siva Plateau beserta candi-candi di dalamnya.
- Makan siang.
- Cenderamata.
- Peta kawasan & panduan.
- Tiket masuk Candi Ratu Boko
Fasilitas tidak termasuk:
- Tiket trans Jogja
- Sarapan pagi
Ini
perkiraan acara yang bakal kita jalanin bersama:
Sabtu,
29 Oktober
2011
06.00 : Kumpul di Bunderan UGM (Kalau
ingin berangkat bersama)
06.00 – 06.30 : Registrasi
07.00 : Tiba di Pasar Prambanan
07.00 – 07.30 : Perjalanan ke Candi Sojiwan
07.30 – 08.00 : Dongeng fabel di Candi Sojiwan
08.00 – 10.00 : Perjalanan menuju Candi Ijo
10.00 – 11.00 : Cerita-cerita seputar Candi Ijo
11.00 – 12.00 : Menuju ke Candi Barong
12.00 – 13.30 : Bersantai di Barong (Makan siang + ishoma)
13.30 – 14.00 : Menemukan Candi Banyunibo
14.00 – 14.30 : Cerita-cerita soal Banyunibo
14.30 – 15.30 : Perjalanan menuju puncak, Ratu Boko
15.30 – 17.30 : Mengulik Ratu Boko, sejarah Mataram
Hindu/Budha
17.30 – 17.45 : Pemandangan matahari terbenam
17.45 – 18.00 : Menuju Pasar Prambanan dengan kendaraan
sewa.
18.00 : Kembali ke Jogja
Untuk
trip Siva Plateu, karena tergolong walking trip,
diharapkan setiap peserta mempersiapkan diri seoptimal mungkin. Ada baiknya
melakukan olahraga ringan sebelum hari H.
Bagi
yang berminat bisa mendapatkan tiket dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Hubungi:
Jaim [jaimpoutz@gmail.com ;
085643040230]
Inu
[minoritaskiri@gmail.com ; 085643311441]
2. Selanjutnya,
melakukan transfer ke rekening berikut:
Bank BCA: 0373062143
[Cabang Jogja a.n Kristanti Wisnu Aji Wardani]
Bank Mandiri: 1430004313217
[Cabang Lumajang a.n Bayu Erliaji]
3. Melakukan
konfirmasi ke Inu dengan cara mengirimkan pesan singkat (SMS) berisi:
- Kata kunci: SIVAPLATEAU
- Nama Lengkap:
- Bank Tujuan:
- Tanggal/Bulan Transfer:
- Jumlah Transfer:
Contohnya seperti ini:
SIVAPLATEAU/RAKAIPIKATAN/BCA/3OKTOBER/65.000
Tanda bukti transfer harap disimpan dan ditunjukkan
saat registrasi ulang.
Tiket yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan lagi,
namun bisa banget kalo dihibahkan kepada orang lain.
YANG
PERLU DIINGET:
Pendaftaran
dibuka pada 8 Oktober dan
ditutup pada 25 Oktober 2011. Demi kenyamanan bersama kami hanya menyediakan 10 tiket saja. *
Biaya untuk tiket:
Titik awal Pasar Prambanan: Rp 65.000,-
Teriring
salam,
JALADWARA:
Buka Mata Kenali Indonesia
*Walking Trip Siva Plateu ini merupakan acara
rutin JALADWARA. Bagi teman-teman yang ingin melakukan perjalanan secara
berkelompok bisa mengatur jadwal sendiri dan segera menghubungi kami.



11.00
Jaladwara

Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar