Rabu, 21 September 2011

Melacak Jejak Napoleon di Cilacap



Perairan Nusa Kambangan tampak sangat tenang. Sebuah kapal besar dengan bendera Belanda bersama enam kapal kecil lainnya melepas jangkar di sana. Sementara itu, tiga orang sedang mendayung bersemangat di dalam sebuah perahu, akan merapat ke daratan Cilacap. Nun jauh di ujung sana, di dekat sebuah karang berdiri dengan kokoh sebuah benteng Belanda. Pada bagian puncak menaranya bendera Belanda berkibar pelan tertiup angin pantai. Seperti itu kira-kira gambaran mengenai Benteng Karang Bolong dan lingkungannya lewat lukisan yang terlampir dalam peta yang disusun oleh J.R. van Diessen & R.P.G.A. Voskuill [Steden Atlas Nederlands Indie]. Kemungkinan besar itu gambaran Benteng Karang Bolong yang terletak di Pulau Nusa Kambangan pada pertengahan abad 19.


Pulau ini konon sejak dulu sulit dicapai selama musim angin muson timur, gelombangnya tak kenal ampun. Oleh sebab itu, pemerintah memutuskan mendirikan hotel prodeo bagi tahanan kelas kakap di pulau ini pada pertengahan abad 20. Sebagai imbasnya, pulau ini terasa amat jauh dan menjelma menjadi pulau terlarang yang sulit untuk dikunjungi. Padahal, sekitar 200 tahun yang lalu, armada Inggris lewat British East India Company [EIC] telah melihat nilai penting pulau ini sebagai garda terdepan penjaga daratan Cilacap. Maka sebuah benteng kecil didirikan di sini untuk menghalau bajak laut.


Anggapan itu diteruskan oleh VOC yang penasaran dengan aktivitas British EIC di pulau ini dan lantas mengirimkan satu armada khusus untuk menyelidiki perairan ini pada 1739. Setelah survei seksama pemerintah Hindia Belanda menetapkan Nusa Kambangan masuk ke dalam garnisun kecil di Pulau Jawa pada 1830. Sebagai kelanjutannya benteng tinggalan Inggris di pulau ini dirombak menjadi sebuah sistem pertahanan yang lebih kokoh dan kompleks sekitar 1833-1855. Pemerintah Hindia Belanda kemudian menambahkan satu benteng lagi di Banjoe Njapa [Klingker]. Benteng tipe martello ini hampir serupa dengan yang ada di Pulau Kelor, Kepulauan Seribu. Kedua benteng di Nusa Kambangan ini dikerjakan dengan sentuhan seni. Tentunya sebagai sebuah sistem pertahanan terlalu berlebihan. Pengerjaannya ditangani oleh kontraktor swasta, sementara pekerjanya merupakan buruh paksa yang terdiri dari nara pidana. Satu catatan penting ialah bahwa Benteng Karang Bolong menjadi satu-satunya contoh sistem pertahanan pesisir tipe Tour Modèle di Indonesia dalam kondisi utuh yang mengacu pada aturan militer masa Napoleon yang dikenal sebagai era Napoleonic Style.


Di sisi daratan, pelabuhan Cilacap kian memainkan peran penting dalam dunia perdagangan. Namun, gubernur jenderal saat itu, J.J. Rochussen telah melihat nilai penting lain dari segi militer. Maka ia menetapkan pelabuhan Cilacap sebagai pelabuhan yang digunakan untuk kepentingan militer pada 1847. Untuk merespon keputusan itu maka pada 1853 dikeluarkan keputusan untuk membangun sebuah benteng besar berlanggam Eropa di Semenanjung Cilacap. Benteng yang kemudian dikenal sebagai Benteng Pendem ini merupakan tiruan dalam bentuk yang lebih kecil dari Benteng Rijnauwen, benteng terbesar di Belanda. Benteng yang selesai dibangun pada 1880 ini merupakan penerapan dari sistem pertahanan New Dutch Waterline yang mengacu pada konsep New Fortification pengembangan dari maestro benteng asal Prancis, Marquis Marc René de Montalembert (1714-1800). Saat itu benteng dilengkapi dengan 6 meriam besar ukuran 24 cm, 16 meriam perunggu ukuran 12 cm, 14 meriam kecil ukuran 8 cm, dan 4 mortar ukuran 29 cm. Peralatan tempur itu menempatkan Benteng Pendem sebagai benteng dengan peralatan tempur berat paling modern di Indonesia waktu itu. Intensitas penggunaan benteng sangat tinggi pada periode 1880-1890. Kemudian mulai meredup setelah 1890 sampai pecahnya Perang Dunia II.


Beda masa perang beda pula sistem pertahanan yang diterapkan. Pada Perang Dunia II, beberapa bungker beton ditambahkan di dalam dan di luar benteng. Saat ini tiga bungker masih bisa dijumpai di sisi timur kompleks Pertamina. Bungker-bungker itu menjadi saksi ketika pelabuhan Cilacap diubah seketika menjadi lautan api oleh tentara Jepang. Itulah sekilas cerita tentang Cilacap, kota kecil di pesisir selatan Jawa Tengah. Selain menikmati sejarah tempo dulu lewat tinggalan fisik berupa benteng di pesisir Cilacap dan Pulau Nusa Kambangan, kami juga mengajak teman-teman untuk merasakan pengalaman menginap di pantai Nusa Kambangan. Mari bercerita seputar benteng sambil menikmati pasir putih pantai Nusa Kambangan. Jadi...., tunggu apa lagi, catat jadwal keberangkatannya dan pastikan Anda bergabung bersama kami.


Berikut perkiraan acara yang bakal kita jalanin bersama:
Sabtu, 15 Oktober 2011
06.30 – 08.00 : Registrasi peserta
08.00 – 12.00 : Perjalanan ke Cilacap
12.00 – 13.30 : Welcome tea Benteng Pendem & Ishoma
13.30 – 15.00 : Mari Rumuskan Strategi Bertahan [Telusur benteng & arsitekturnya]
15.00 – 16.00 : Kejar Momenmu [Seri hunting foto benteng]
16.00 – 16.30 : Berlabuh di Nusa Kambangan [Menyeberang ke Nusa Kambangan]
16.30 – 17.00 : Perjalanan menuju Pantai Karang Bolong
17.00 – 18.30 : Ayo Dirikan Tendamu [pasang tenda, bersih-bersih, ishoma]
18.30 – 19.30 : Ngisi Perut Yuk!!! [persiapan makan malam & makan malam]
19.30 – 22.00 : Di Dekat Api Unggun Kita Berkumpul [tukar sapa & dongeng seputar sejarah benteng-benteng di Cilacap]
22.00 – 05.00 : Tidur....zzzzzzzzzz......ZZzzzzzzzz.......ZZZ..ZZZZzzzzzzz.........

Minggu, 16 Oktober 2011
05.00 – 07.00 : Selamat Pagi Nusa Kambangan [bangun, bersih-bersih, senam pantai :D]
07.00 – 08.00 : Sarapan Pagi
08.00 – 09.30 : Buka Petamu [Jelajah Benteng Karang Bolong, sejarah, & arsitekturnya, hunting foto]
09.30 – 10.30 : Susun Puzzle [ayo cicipi peran menjadi arkeolog, temukan kepingan ceritamu lewat permainan layaknya seorang detektif]
10.30 – 12.00 : Bongkar tenda, "sweeping" sampah, & Ishoma
12.00 – 12.30 : Perjalanan menuju Benteng Klingker
12.30 – 14.00 : Hai Menara Pulau Kelor!!! [Eksplorasi Benteng Klingker, panduan sejarah benteng, hunting foto benteng]
14.00 – 14.15 : Kembali ke Teluk Penyu
14.15 – 14.45 : Mengintip Sistem Pertahanan Perang Dunia II di Semenanjung Cilacap [bungker-bungker Pertamina & hunting foto]
14.45 – 15.30 : Berburu kuliner khas Cilacap
15.30 – 19.30 : Jogja....Jogja...Jogja....:D


Fasilitas yang bakal didapetin:
1. Bis AC Jogja-Cilacap [PP]
2. Makan besar [4 kali]
3. Tiket masuk ke Teluk Penyu, Benteng Pendem, Benteng Karang Bolong
4. Welcome tea di Benteng Pendem
5. Penyeberangan Teluk Penyu-Nusa Kambangan [PP, termasuk asuransi]
6. Tenda + Matras [satu tenda berbagi untuk 4-5 peserta]
7. Isi ulang air minum
8. Pemandu lokal + Jaladwara
9. Gantungan kunci trip Benteng Benteng Cilacap
10. Kawan baru + Pengalaman + Informasi baru :D


Fasilitas tidak termasuk:
1. Kantong tidur/sleeping bag [bagi temen-temen yang belum punya, Jaladwara bisa membantu untuk menyewakan, per hari Rp 6.000]
2. Makan pagi di hari keberangkatan.


Berhubung nanti kita akan nginep di tepi pantai maka ada beberapa hal yang perlu disiapken sebelum berangkat:
1. Tas ransel buat naruh bekal pribadi, seperti obat-obatan pribadi, wadah makan & sendok, payung, buku catetan, kamera, lotion anti nyamuk, selimut, jaket, jas hujan/rain coat, & alat tulis.
2. Pakaian ganti bagi yang pengen ganti :P [karena kita menginap semalem, jadi bawa bekal pakean secukupnya saja].
3. Makanan ringan.
4. Botol minum, karena Jaladwara menyediakan air isi ulang. Hemat uang hemat sampah...:D
5. Sandal atau sepatu yang nyaman buat dipake jalan-jalan.
6. Topi bagi yang ga gitu tahan sama cuaca panas.
7. Kresek bekas untuk wadah sampah pribadi [sampah akan dipilah dan dikumpulkan bersama].


Bagi yang berminat untuk gabung, bisa mendaftarkan diri melalui:
1. Hubungi:
a. Jaim [jaimpoutz@gmail.com ; 085643040230]
b. Inu [minoritaskiri@gmail.com ; 085643311441]


2. Selanjutnya, melakukan transfer ke rekening berikut:
Bank BCA: 0373062143 [Cabang Jogja a.n Kristanti Wisnu Aji Wardani]
Bank Mandiri: 1430004313217 [Cabang Lumajang a.n Bayu Erliaji]


3. Melakukan konfirmasi ke Inu dengan cara mengirimkan pesan singkat (SMS) berisi:
a. Kata kunci: BENTENGCILACAP
b. Nama Lengkap:
c. Bank Tujuan:
d. Tanggal/Bulan Transfer:
e. Jumlah Transfer:
Contohnya seperti ini: 
BENTENGCILACAP/ANGELINA JOLIE/BCA/3OKTOBER/290.000


4. Tanda bukti transfer harap disimpan dan ditunjukkan saat registrasi ulang.


5. Tiket yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan lagi, namun bisa banget kalo dihibahkan kepada orang lain.


YANG PERLU DIINGET:
Pendaftaran dibuka pada 21 September 2011 dan ditutup pada 8 Oktober 2011. Demi kenyamanan bersama kami hanya menyediakan 30 tiket saja.


Biaya untuk tiket:
Titik awal Yogyakarta: Rp 290.000 [kumpul di Benteng Vredeburg]
Titik awal Cilacap: Rp 200.000 [Kumpul di Benteng Pendem]


Cara ke Jogja dari Jakarta:
Kereta Senja Utama: Dari Jakarta [Pasar Senen] 19.30 tiba di Jogja [Tugu] 04.10, berhenti di stasiun Jatinegara, Cirebon, Prupuk, Purwokerto, dan Wates. Harga tiket: Rp 120.000 [batas bawah] dan Rp 180.000 [batas atas]. Harga tiket untuk Jumat, 14 Oktober 2011 Rp 155.000.


Kereta Gajah Wong: Dari Jakarta [Pasar Senen] 07.45 tiba di Jogja [Lempuyangan] 15.57. Harga tiket untuk Jumat, 14 Oktober 2011: Rp 120.000.


Kereta Fajar Utama: Dari Jakarta [Pasar Senen] 06.45 tiba di Jogja [Tugu] 14.53. Harga tiket untuk Jumat, 14 Oktober 2011: Rp 135.000.


Kereta Progo: Dari Jakarta [Pasar Senen] 21.00 tiba di Jogja [Lempuyangan] 06.45. Harga tiket Rp 35.000.


Kereta Gaya Baru Malam Selatan: Dari Jakarta [Jakarta Kota] 12.00 tiba di Jogja [Lempuyangan] 22.00. Harga tiket Rp 26.000.


Naik bis, bisa naik SAFARI DHARMA RAYA, RAMAYANA, PAHALA KENCANA, KRAMAT DJATI, SANTOSO, HANDOYO, SUMBER ALAM, SINAR JAYA, RAHARJA.


Cara Ke Cilacap dari Jakarta:
Kereta Purwojaya: Dari Jakarta [Gambir] 05.45 tiba di Cilacap 13.10, berhenti di stasiun Jatinegara, Bekasi, Purwokerto, Kroya, dan Maos. Harga tiket eksekutif: Rp 170.000 [batas bawah] dan Rp 250.000 [batas atas]. Harga tiket bisnis: Rp 100.000 [batas bawah] dan Rp 250.000 [batas atas].


Naik bis, bisa naik DAMRI, GAPURANING RAHAYU, SINAR JAYA.


Jika sudah tiba di stasiun, naik angkutan ke terminal (bisa tanyakan petugas). Dari terminal naik angkutan jurusan Benteng/Teluk Penyu. Angkutan warna kuning, armadanya tidak begitu banyak, tarif Rp 2.500. Waktu tempuh sekitar 15-30 menit tergantung lama "ngetem" si angkot. Turun di gerbang komplek kilang Pertamina lalu jalan kaki menuju Benteng Pendem Cilacap sekitar 10-15 menit.


Cara ke Jogja dari Semarang:
Bus Nusantara: pemberangkatan paling pagi 05.30, sampe jogja 08.30, pemberangkatan terakhir 17.15, tiba di Jogja 20.15, tiket Rp 35.000.


Bus Joglosemar: info lengkap bisa dicek ke http://joglosemarbus.blogspot.com/


Bus ekonomi, seperti Mitra, Raharja, atau Jaka Kendil. Tarifnya berkisar di Rp 18.000. Bis terakhir pukul 16.00.




Teriring salam,
JALADWARA: Buka Mata Kenali Nusantara

0 komentar:

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys