Selasa, 20 September 2011

Green Travelling: Tips Berlibur yang Ramah Lingkungan

Latar Belakang 
Setiap orang pada dasarnya mempunyai naluri untuk melakukan perjalanan dan mencari tahu budaya dan masyarakat di tempat lain. Apalagi di era yang super sibuk seperti sekarang ini. Membebaskan diri sesaat dari rutinitas keseharian dan pergi liburan menjadi sesuatu yang sangat berharga. Kegiatan itu, bagaimanapun akan memberikan kepuasan bagi pelakunya. Namun, jangan lupa ada dampak negatif dari kegiatan itu jika dilakukan dengan tidak bertanggungjawab, seperti rusaknya ekosistem dan obyek wisata. Maka, jadilah pejalan yang bertanggungjawab. Pejalan “hijau” yang turut menunjang sebuah kehidupan yang berkelanjutan (sustainable living). Penggunaan istilah pejalan “hijau” di sini ialah seseorang yang melakukan perjalanan dengan cara-cara yang bertanggung jawab dan peduli terhadap keberlanjutan lingkungan alam dan sosial budaya di tempat-tempat yang dikunjunginya.

Tips
Adapun cara-cara yang dapat kita lakukan antara lain: 

1. PILIH ALAT TRANSPORTASI-MU
Dengan apa kita menuju ke tempat wisata ternyata berimbas pada lingkungan fisik. Sebaiknya kita menggunakan kereta, bis, kapal laut, atau kendaraan umum lainnya. Hindari pesawat sebisa mungkin karena emisinya yang sangat tinggi. Andai kata pesawat menjadi pilihan terakhir maka pilihlah penerbangan yang langsung tanpa transit. Emisi yang dikeluarkan pesawat untuk lepas landas dan mendarat lebih besar dibandingkan ketika pesawat dalam kondisi terbang. Selain itu, bepergian tanpa menggunakan pesawat akan memberikan pengalaman yang tak terduga (kultur masyarakat, pemandangan alam, tempat-tempat bersejarah).

Usahakan untuk menggunakan angkutan publik selama di dalam tempat (kota/desa) tujuan seperti angkutan umum, becak, andong, sepeda atau bahkan berjalan kaki. Semakin lambat kecepatan moda transportasi yang kita gunakan semakin banyak hal-hal menarik yang akan kita jumpai. 

2. TENTUKAN "BEKAL" INFORMASI-MU
Informasi mengenai tempat yang dituju merupakan modal awal yang harus dimiliki agar tidak “buta” ketika sampai di tujuan. Gunakanlah kertas bekas untuk mencatat informasi-informasi yang dibutuhkan. Informasi dapat juga disimpan dalam bentuk soft copy di smart phone. 

Informasi juga dapat berupa peta wisata. Beberapa kota misalnya sudah menyediakan peta-peta untuk pejalan “hijau” (contohnya Green Map). Di dalam peta tersaji informasi mengenai tempat-tempat menarik untuk dikunjungi dan jarang dipublikasikan seperti kuliner yang menggunakan sumber bahan lokal, tempat berkumpul masyarakat untuk aktivitas seni dan budaya, jalur sepeda, tempat wisata budaya, sanggar seni, dan lain sebagainya. Atau, jangan sungkan untuk menghubungi para pegiat lokal. Mereka akan banyak membantu Anda selama berada di tempat tujuan. 

3. BAWA BOTOL MINUM
Usahakan atau tegaskan dan ingatkan pada diri sendiri untuk selalu membawa botol minum sendiri saat bepergian. Mengonsumsi air dari botol plastik sama saja dengan menghasilkan sampah plastik, membuat pengeluaran “membengkak”, serta mendukung praktek “pemiskinan” warga lokal tempat sumber daya air mineral berada. Jika kita membawa botol minum sendiri maka kita hanya cukup mengisi ulang di warung makan atau rumah/penginapan tempat kita menginap. Jauh lebih murah bukan? 


Gereja Blenduk - Semarang

4. BAWA WADAH DAN SENDOK MAKAN
Beberapa tempat wisata terkadang dilengkapi dengan wisata kuliner yang menggiurkan. Dengan membawa wadah dan sendok makan sendiri kita akan menghindari penggunaan wadah dan sendok plastik/styrofoam sekali pakai. Wadah makan ini juga bisa digunakan untuk menyimpan kuliner yang akan dibawa pulang. Daripada menggunakan wadah plastik atau kotak yang tidak dapat kita gunakan berkali-kali, lebih baik wadah makanan sendiri yang terjamin kebersihannya. 

5. BAWA KANTONG BELANJA
Bawalah kantong belanja sendiri untuk menghindari penggunaan kantong kresek. Kita bisa membuat perkiraan jumlah cenderamata yang akan dibawa pulang dengan mencari informasi sebelumnya. Maka jumlah dan ukuran kantong belanja pun akan menyesuaikan dengan rencana awal. 

6. BAWA SAPU TANGAN
Bawalah sapu tangan atau handuk kecil untuk mengurangi penggunaan tisu selama bepergian. 


Kete'kesu - Tana Toraja

7. HEMAT AIR DAN LISTRIK
Penggunaan air dan listrik selama bepergian menjadi satu kebutuhan layaknya jika kita hanya di dalam rumah saja. Maka, usahakan menggunakan dua sumber energi itu dengan bijak. Gunakan air secukupnya saat mandi, membasuh muka, mencuci tangan, dan berwudhu. Begitu pula dengan listrik. Matikan lampu kamar dan semua peralatan listrik seperti televisi dan pendingin ruangan di penginapan ketika kita hendak meninggalkan kamar. Segera cabut charger hp atau kamera ketika sudah tidak digunakan lagi. 

8. PILIH WARUNG MAKANMU
Usahakan untuk makan di warung makan lokal yang menggunakan sumber bahan dari lingkungan sekitar. Selain ramah lingkungan, dengan makan di warung makan lokal kita juga turut mendukung ekonomi lokal. 

9. PILIH TEMPAT MENGINAPMU
Pilihlah tempat menginap yang menerapkan asas-asas ramah lingkungan. Akan lebih baik lagi jika bisa menginap di rumah warga. Selain mengenal budaya baru kita juga berbagi energi.


Danau Kelimutu - NTT

10. PERHATIKAN SAMPAHMU
Jangan pernah meninggalkan sampah anorganik di tempat wisata, terutama jika itu wisata di pulau. Bawalah sampah kembali ke daratan. Lakukan pemilahan sebelumnya. Sampah yang telah dipilah kemudian dapat disalurkan ke pemulung. 

11. AWAS ROKOKMU
Jika Anda perokok aktif sebaiknya hindari merokok di tempat-tempat wisata seperti candi, masjid, gereja, dan bangunan-bangunan lama. Terkadang tanpa sadar para perokok aktif akan mematikan rokoknya begitu saja di tubuh bangunan. Perlu diperhatikan juga agar menjauh dari kerumunan orang ketika hendak merokok agar asapnya tidak mengganggu pengunjung lainnya.

12. PERHATIKAN BEBANMU
Bawalah barang bawaan secukupnya ketika “hang out” keliling kota atau desa. Jangan membawa beban terlalu banyak apalagi jika hendak berkunjung ke obyek wisata budaya seperti candi. Jika memang membawa beban banyak sebaiknya menitipkannya terlebih dahulu ke loket penitipan barang. 

13. HINDARI MEMBAWA BARANG YANG TIDAK PERLU
Jangan membawa barang yang tidak perlu seperti spidol, pisau, atau cat semprot. Terkadang barang-barang yang tidak perlu itu memancing kita untuk melakukan aksi vandalisme di tempat-tempat wisata.


Pantai Kukup - DI Yogyakarta

14. PERTIMBANGKAN ALAS KAKIMU
Sekilas alas kaki merupakan hal yang remeh temeh. Kita biasanya akan menggunakan alas kaki yang sesuai dengan kenyamanan pribadi. Namun, ada baiknya alas kaki kita menyesuaikan dengan tempat wisata yang kita tuju. Misalnya, jika ke candi sebisa mungkin tidak menggunakan alas kaki dengan tumpuan yang runcing karena akan mempercepat proses “keausan” batu candi.

15. PATUHI RAMBU-RAMBU
Patuhilah rambu-rambu yang ditetapkan oleh petugas, semisal “Dilarang Memotret” atau “Dilarang Menyentuh Koleksi” atau “Dilarang Duduk di Atas Koleksi”. Peraturan itu dibuat pasti mempunyai alasan tertentu untuk kelestariannya. 

16. PILIH TUJUAN WISATA YANG TEPAT
Tujuan wisata akan berpengaruh pada moda transportasi yang kita pakai. Ada baiknya kita mengenali daerah sendiri sebelum melakukan eksplorasi lebih jauh daerah-daerah lainnya. Memang terlihat tidak menarik untuk mengunjungi tempat-tempat wisata yang dekat dengan tempat tinggal kita. Alasannya cukup jelas, tempat itu selalu kita lewati setiap hari. Namun, ada baiknya jika kita mengulik lebih dalam apa yang ada di dalamnya, siapa tahu kita akan menemukan hal yang menarik dan tidak biasa. Tentu saja akan memangkas biaya dan emisi seminim mungkin. Kita dapat pergi ke tempat itu dengan berjalan kaki atau naik kendaraan umum. 


Gunung Merapi - DI Yogyakarta

Kesimpulan
Demikian beberapa tips mengenai bagaimana cara mengisi liburan dengan tetap memegang prinsip bertanggung jawab dan ramah lingkungan (baik fisik maupun sosial). Secara sepintas, mungkin tips-tips yang disebutkan di atas cenderung tidak praktis dan agak sulit untuk diterapkan. Namun jika kita lihat efeknya terhadap kelestarian lingkungan, rasanya semua upaya kita tidak akan sia-sia karena dengan berusaha menjaga lingkungan pada saat ini, berarti kita sudah menjamin kelestariannya di masa mendatang. 

Saran
Pada musim liburan, sebagian besar dari kita akan memilih untuk mengisi liburannya dengan mengunjungi objek-objek wisata. Dari segi pendapatan daerah, tentu hal ini berdampak positif, dan untuk wisatawan sendiri, tentu merasa puas jika melepas penat dan lelah di tempat tersebut. Namun tanpa disadari, hal ini juga berakibat negatif terhadap kondisi dan kelestarian lingkungan objek-objek wisata, misalnya peningkatan jumlah kunjungan wisatawan yang berbanding lurus dengan meningkatnya volume sampah dan aktivitas pengunjung yang kadang tidak mengindahkan aturan bahkan cenderung melakukan vandalisme. Oleh karena itu, sudah sepatutnya bagi kita untuk mulai memiliki rasa peka dan tanggung jawab terhadap lingkungan, termasuk ketika sedang berlibur atau berwisata. 

Referensi
http://www.treehugger.com/files/2009/05/6-ways-to-cut-carbon.php
http://www.allaboutwater.org/environment.html
http://www.seat61.com/CO2flights.htm
http://www.usatoday.com/news/nation/environment/2008-06-07-bottled-water_N.htm
http://www.kruha.org/page/id/dinamic_detil/15/80/Air_Kemasan/Air_Minum_Dalam_Kemasan.html

0 komentar:

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys