Selasa, 04 November 2014

Museum Sonobudoyo, Mozaik Kebudayaan Jawa, Bali, & Madura (*)

Candrasengkala memet yang berada di atas pintu menuju ruang koleksi, menandakan tahun pembangunan museum yaitu 1934.
Agak terhenyak juga ketika tak sengaja mendengar percakapan seorang pemandu Museum Sonobudoyo dengan sekelompok remaja di pameran temporer Sang Ksatria, Gedung BI lama, beberapa waktu yang lalu. Mereka tak tahu dimana lokasi Museum Sonobudoyo. Dengan sabar si pemandu museum pun memberikan petunjuk lokasinya.

Berlokasi di pusat kota, hanya sepelemparan batu dari Alun-alun Utara ternyata tak jadi jaminan Museum Sonobudoyo dikenal orang. Apa sebab? Bisa jadi promosi yang kurang atau memang sebagian orang tak berminat berkunjung atau mencari tahu tentang museum.

Tampak depan Museum Sonobudoyo Yogyakarta
Saya pun terhitung sudah lebih dari tiga kali mengunjungi museum ini. Selain terkait dengan tugas kuliah, terkadang saya iseng saja berkunjung ke sini. Sekira setahun yang lalu sudah ada seorang pemandu yang baik hati menemani saya berkeliling museum.

Adanya pemandu sangat membantu saya dalam mengenali koleksi-koleksi museum ini. Meskipun beberapa koleksi dilengkapi dengan keterangan, namun tak jarang informasinya terlampau permukaan. Pemandu biasanya bisa menjadi teman diskusi ketika mengamati koleksi.

Museum Sonobudoyo sebenarnya memiliki puluhan ribu koleksi akan tetapi sebagian besar di antaranya tidak dipamerkan karena keterbatasan ruang. Museum ini didirikan oleh Java Instituut yang memusatkan perhatiannya pada kebudayaan Jawa, Bali, dan Madura. Maka pada 1934 dimulailah pembangunan gedung museum di atas tanah pemberian Sultan HB VIII. Maka jangan heran ketika berkeliling museum Anda akan berjumpa dengan koleksi-koleksi yang mencerminkan kebudayaan Bali.

Aneka koleksi Museum Sonobudoyo
Berangkat dari nafas kebudayaan Jawa, Bali, dan Madura, alur cerita di museum ini memang tak begitu jelas. Tak bisa juga dikatakan bahwa museum ini menggunakan sistem periodisasi karena alur waktunya yang tak konsisten. Namun, sebenarnya kita masih bisa melakukan eksplorasi mandiri terkait dengan koleksi.

Candrasengkala memet yang berada di gerbang masuk museum, menandakan tahun pembukaa museum yaitu 1935.
Sebagian koleksi yang dipamerkan di museum ini menceritakan beberapa tempat yang ada di Yogyakarta, semisal candi, masjid, dan keraton. Apalagi kalau Anda sudah memiliki telepon cerdas. Anda bisa langsung berselancar untuk memperoleh informasi lebih terkait koleksi di sini. Mungkin bisa menambah warna diskusi dengan pemandu yang menemani Anda.

Kiat berkunjung:
1. Mintalah pemandu untuk menemani berkeliling, terlebih jika ini kunjungan pertama.
2. Tanyakan kepada pemandu mengenai sejarah dan konsep museum. Hal ini akan membantu Anda untuk memahami koleksi.
3. Koleksi museum yang dipamerkan memang tidak terlampau banyak, tetapi cukup menguras energi bila ingin mengamati satu per satu. Fokus pada ketertarikan Anda saja. Lalu lakukan kunjungan berikutnya untuk mengeksplorasi koleksi yang lain.
4. Koleksi yang berada di luar ruangan juga menarik untuk diamati.
5. Jangan gunakan lampu kilat “flash” saat memotret. Sebaiknya tanyakan informasi koleksi yang akan dipotret kepada pemandu agar dapat memberikan cerita pada foto.
6. Jangan menyentuh koleksi, menekan kaca pada lemari koleksi, atau melakukan tindakan vandalisme selama berada di dalam area museum.

Info lokasi & jam buka:
Museum Sonobudoyo Yogyakarta

(*) Ulasan survei 29 Oktober 2014

0 komentar:

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys