Sabtu, 02 November 2013

Kampung Cempluk Festival


Di Kota Malang, setiap tahunnya ramai dibicarakan Kampung Cempluk Festival. Apakah sebenarnya Kampung Cempluk Festival itu? Acara ini merupakan sebuah perhelatan seni budaya yang diperingati setiap tahunnya di RW 02, Dusun Sumberrejo, Desa Kalisongo, Kecamatan Dau , Kabupaten Malang. Tahun ini merupakan tahun keempat penyelenggaraan Kampung Cempluk Festival yang dilaksanakan dengan penuh dukungan dan apresiasi dari berbagai lapisan masyarakat kota Malang.

Asal usul nama Kampung Cempluk ini bukanlah tanpa sejarah. Dusun Sumberrejo yang tidak jauh dari lokasi perbatasan kota Malang, ternyata merupakan saksi sejarah berakhirnya penggunaan cempluk sebagai alat penerangan keseharian masyarakat  Kota Malang. Dusun Sumberrejo merupakan daerah terakhir yang menggunakan cempluk sebagai alat penerangan di Kota Malang yaitu sekitar 1992. Padahal pemasangan listrik di Kota Malang sudah cukup marak sekitar 1987-an. Dengan latar belakang itulah, mungkin masyarakat dusun Sumberrejo dinilai masih tertinggal dalam hal pendidikan dan kehidupan sehari-hari di era 90an.

“Waktu itu kampung masih gelap dan menggunakan penerangan cempluk untuk beraktivitas di malam hari. Warga sangat hobi lomba patrol keliling kampung, selain itu aktvitas kesenian yang saya suka adalah ikut ibu-ibu main terbangan,” kata Ibu Siti saat ditemui di warung berlampu neon yang menjual beraneka macam jajanan.

Latar belakang di atas menjadi cikal bakal kebudayaan bagi Dusun Sumberrejo yang perlu dilestarikan. Ruang apresiasi itu terangkum dalam perhelatan Kampung Cempluk Festival yang mewadahi segala macam aktivitas seni, sastra, dan budaya dari berbagai macam lapisan masyarakat Kota Malang dengan durasi waktu selama sepekan. Selain aktivitas kebudayaan, sepanjang RW 02, Dusun Sumberrejo juga dimanfaatkan sebagai pasar rakyat oleh masyarakat setempat untuk menambah kemeriahan suasana Kampung Cempluk.  

Walaupun pada Kampung Cempluk Festival tidak benar-benar menggunakan cempluk sebagai alat penerangan, tapi suasana di kampung cempluk festival dibuat sedemikian remang agar pengunjung terasa dekat dengan masa-masa dimana listrik belum masuk pada dusun Sumberrejo.

Kontributor: Mutia Husna Avezahra [mahasiswa magang Jaladwara plus pejalan dari Malang]


Pasar Malam di bagian ujung Kampung Cempluk yang berisi mainan khas anak-anak seperti komidi putar, kereta naga, dsb.

Masyarakat setempat yang membuka warung di sepanjang jalan kampung cempluk. Penerangan dibuat dari lampu neon yang dibungkus bola plastik.

Masyarakat setempat juga membuka lapak barang untuk diperjualbelikan. Salah satunya adalah dompet-dompet ini.

Kita dapat bernostalgia dengan jajanan pada masa kecil kita. Khususnya Anda yang mengenyam SD di era 90an.

Ibu penjual cenil (makanan yang terbuat dari pati ketela pohon). Ibu ini berjualan di depan rumahnya sendiri.

Tangan dingin Sam sang penjual menghasilkan berbagai varian bentuk imut gulali.

Ibu ini membuka warung untuk pengunjung yang ingin bersantai minum teh sambil makan gorengan.

KCF tahun ini lebih matang dan terkonsep, hingga tercipta produk oleh-oleh berupa kaos yang dapat dibawa pulang oleh pengunjung dengan harga terjangkau.

Disini panggung untuk pertunjukan modern. Sedang berlangsung pertunjukan musik “Knee and Toest” duo gitar asal Malang.

Ini adalah panggung yang terletak di pintu masuk KCF. Acara sedang diramaikan oleh pertunjukan musik Dwipantara Orchestra Malang.

Salah satu partisipasi warga yang membuka wahana rumah hantu. Berjudul “Singo Budoyo”. Dipatok 5000 rupiah sekali masuk. 

0 komentar:

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys