Target tertingginya ialah mendorong perubahan perilaku pada pengendara motor dan pejalan kaki.
Kali ini kami ngobrol-ngborol di Karta Pustaka. Kami berkenalan satu sama lain lebih dalam lagi. Lho, kok lebih dalam? Iya, pada pertemuan awal kami memang sudah saling berkenalan. Namun, kali ini lebih terstruktur lagi karena selain menceritakan latar belakang komunitas masing-masing kami juga memaparkan gambaran untuk survei Peta Hijau Pejalan Kaki.
Obrolan diawali oleh Mbak Liek dari Peta Hijau Yogyakarta. Mbak Liek menceritakan perihal cerita singkat tentang Peta Hijau. Ia menekankan pentingnya manajemen kerja antar relawan nantinya.
Joyo yang juga Peta Hijau Yogyakarta masuk ke ranah yang lebih esensial lagi. Ia mengusulkan agar Peta Hijau “naik” kelas dari sekedar media informasi dan edukasi menjadi media yang mendorong perubahan. Perubahan yang dimaksud cakupannya tidak harus skala makro melainkan yang mikro saja dulu. Untuk itu ada baiknya dalam kegiatan ini kami memilih satu atau dua kawasan yang akan dijadikan proyek percontohan. Kami akan melibatkan warga lokal untuk bersama-sama mengerjakan kegiatan pemetaan ini.
Perlu saya ulangi lagi bahwa kegiatan pemetaan ini bertujuan untuk mengajak masyarakat kembali menjadikan jalan kaki sebagai salah satu pilihan dalam transportasi jarak dekat. Caranya ialah dengan menyuguhkan hal-hal menarik di sepanjang rute pedestrian, seperti tinggalan pusaka, flora, dan fauna. Terkait dengan itu, maka pertemuan kali ini setiap tim akan menceritakan hal-hal yang menjadi fokus pemetaannya.
Teman dari Pohon Indonesia akan melakukan pemetaan lokasi-lokasi strategis yang memiliki jenis flora serta penutupan tajuk di sekitar jalur pejalan kaki dan halte trans Jogja. Pemetaan meliputi proses identifikasi jenis flora langka yang perlu dilestarikan. Mereka menambahkan bahwa pemetaan flora ini baru akan menghasilkan rekomendasi untuk jangka pendek, menengah, dan panjang. Hal itu mengingat bahwa pohon membutuhkan waktu untuk dapat tumbuh.
Jenis-jenis burung, jumlah populasi tiap jenis, cuaca, dan kondisi lingkungan di sekitar lokasi yang diamati menjadi hal-hal yang diamati oleh teman-teman PPBJ. Mereka juga menyinggung kembali soal burung-burung urban. Burung-burung urban ini banyak dijumpai di kawasan campuran antara bangunan dan pepohonan atau disebut juga ecoton. Untuk rute survei, mereka akan mengikuti rute survei teman-teman Flora dan Pusaka.
Saya yang mewakili isu Pusaka memulai sesi bercerita dengan menayangkan sebuah video pendek tentang pedestrian. Video ini mengambil tempat di Indianapolis. Video yang membakar semangat untuk mewujudkan Kota Jogja lebih manusiawi bagi orang-orang yang tinggal di dalamnya [The Indianapolis Cultural Trail]
Saya juga menceritakan tentang proyek penelitian di Irbid, Jordan, yang mengawinkan antara isu pedestrian dengan tinggalan pusaka di kota. Fahed Abujaber, peneliti Irbid, yang mengangkat isu tersebut menggunakan beberapa variabel untuk melakukan survei. Hasil survei itu kemudian melahirkan rancangan kota Irbid yang kaya tinggalan pusaka dengan jalur pedestrian. Ia memproyeksikan Irbid sebagai kota yang nyaman bagi wisatawan yang ingin melakukan eksplorasi Irbid dengan berjalan kaki. Penelitian Abujaber itu menjadi salah satu referensi saya dalam merancang isu pusaka dan pedestrian dalam kegiatan Peta Hijau Pejalan Kaki.
Berbagai hal yang terkait dengan pusaka kota seperti bangunan lawas, tradisi, kuliner, tokoh, kisah-kisah lokal akan menjadi fokus pemetaan isu pusaka. Yang paling penting itu unsur cerita. Meskipun suatu ruas jalan atau kawasan tidak tampak menarik dari sisi visual atau estetika namun memiliki cerita yang sangat kuat, itu akan menjadi nilai lebih.
Yang menjadi perhatian lainnya untuk dipetakan ialah terkait dengan fasilitas seperti bangku, kafe, restoran, tempat menjual cenderamata, lampu jalan, serta tanda-tanda/orientasi jalan. Fasilitas-fasilitas itu sangat membantu kegiatan pariwisata di Jogja dengan moda transportasi jalan kaki.
Sementara itu isu pedestrian yang akan dipetakan ialah mengenai kondisi fisik fasilitas pejalan kaki, seperti ketersediaan trotoar, lebar trotoar, fasilitas penyeberangan jalan, lampu penerangan, gangguan yang terdapat di sepanjang trotoar, ketersediaan pohon-pohon peneduh dan tempat-tempat peristirahatan. Yang tidak luput diamati ialah mengenai perilaku pengguna kendaraan bermotor dan pejalan kaki.
Untuk mewujudkan ide-ide yang sudah menari-nari di kepala itu ada beberapa langkah yang harus disiapkan. Maka perlu secepatnya ditentukan rute survei, informasi yang akan dikumpulkan di sepanjang rute (meliputi pusaka, flora, fauna, aktivitas warga, dan fasilitas pedestrian), dan diseminasi ke warga lokal kawasan yang disurvei dan masyarakat.
Untuk penentuan rute survei, saya mengacu pada Abujaber. Ia memilih beberapa kawasan utama yang kemudian dihubungkan dengan jalur-jalur pedestrian. Jadi lokasi utama atau induk menjadi semacam tetenger atau daya tarik wisatawan berkunjung. Di sisi lain Abujaber menawarkan lingkungan sekitar lokasi utama yang juga menarik untuk diamati lewat berjalan kaki.
Ide Abujaber itu kemudian saya usulkan untuk penentuan rute. Di Kota Jogja setidaknya -dalam pikiran saya- ada beberapa kawasan menarik yang bisa dihubungkan dengan moda transportasi jalan kaki atau trans Jogja. Kawasan itu antara lain Kota Baru, Malioboro, Taman Sari/Jeron Beteng, dan Pakualaman. Empat kawasan itu kemudian disepakati sebagai daerah kerja utama kegiatan ini.
Yep, kami harus bersiap untuk lokakarya mendatang. Memang belum disepakati waktunya tapi setidaknya sudah harus memikirkan muatan formulir survei :)



18.32
Jaladwara

Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar