 |
| Suasana di depan Masjid Agung Yogyakarta |
Acara
grebeg mulud tahun ini [05/02] diwarnai dengan cuaca yang teramat cerah. Saya
datang agak terlambat, sekitar pukul 09.30 WIB. Suasana di Alun-alun Utara dan
sekitarnya sudah dipadati warga dan turis. Karena tidak tahan menunggu di
gerbang Masjid Agung maka saya putuskan untuk mengintip aktivitas di Bangsal
Pancaniti, Keraton Yogyakarta. Di sana para abdi dalem keraton sedang bersiap
menunaikan tugas dalam grebeg kali ini. Para abdi dalem berbaju merah dan putih
tampak berkumpul di dalam Bangsal Pancaniti, sementara para prajurit masih
berleyeh-leyeh di sekitar bangsal.
 |
| Kesatuan prajurit Lombok Abang sedang leyeh-leyeh sebelum menjalankan tugas |
Saya
sempat ngobrol dengan salah dua dari sekian banyak prajurit kesatuan keraton.
Mereka masuk ke dalam satuan prajurit Plangkir yang akan mengawal kirab
gunungan menuju Pura Pakualaman. Beliau berdua banyak bercerita tentang suka
duka menjadi abdi dalem keraton. Namun, poin yang saya dapatkan masih tetap
sama. Kehendak untuk menjadi abdi dalem merupakan sebuah keinginan yang
didasarkan pada pengabdian kepada keraton. Apakah murni karena berkah dari
keraton atau ada motif lain di baliknya, saya tak tahu pasti. Yang jelas uang
Rp 5.000,- yang dibayarkan kepada mereka saya pikir bukanlah uang yang dinilai
secara intrinsik atau ekstrinsik, namun lebih dari itu. Ada makna di
dalamnya.
Tak
lama kemudian para prajurit bersiap dengan satuannya masing-masing. Prosesi
pengangkatan gunungan pun dimulai. Antusiasme warga dan turis tak terbendung,
namun masih dapat dikontrol. Menyaksikan gunungan demi gunungan itu
dipindahkan, diiringi dengan alunan musik khas kesultanan -nadanya meliuk-liuk
tapi tetap nikmat didengar-, di bawah terik matahari yang amat menyengat
menurut saya sesuatu yang luar biasa di awal tahun ini. Rasanya senang sekali.
:)
 |
| Gunungan putri dibawa ke Siti Hinggil |
Ada
tujuh gunungan yang diberikan Sultan tahun ini sebagai simbol berkah dan
kemurahan hati raja kepada rakyatnya. Tujuh gunungan itu terdiri dari tiga
gunungan kakung, satu gunungan putri, satu gunungan gepak, satu gunungan darat,
dan satu gunungan pawuhan [1]. Saya tentu tidak paham jenis-jenis gunungan itu.
Saya hanya dapat mengkategorikan gunungan itu sebagai gunungan kakung dan
gunungan putri.
 |
| Gunungan yang diletakkan di Bangsal Pancaniti |
Lima
gunungan akan diperebutkan di halaman Masjid Agung Yogyakarta, satu gunungan di
halaman kompleks Kepatihan, dan satu gunungan lagi dibawa ke Pura Pakualaman.
 |
| Gunungan yang dibawa menuju Pura Pakualaman |
Setelah
prosesi di Bangsal Pancaniti berakhir, saya bergegas menuju Alun-alun Utara
yang menjelma menjadi lautan manusia. Saya memilih untuk ikut kirab gunungan ke
Pura Pakualaman. Gunungan dikawal oleh pasukan gajah dan pasukan Lombok Abang
serta Plangkir.
Di Pura
Pakualaman warga pun sudah berkumpul, tidak sabar menunggu gunungan dikeluarkan
dan diperebutkan di Alun-alun Pakualaman. Dan menjelang shalat zuhur, akhirnya
gunungan keluar dan dirayah beramai-ramai. Saya mendapatkan sebatang kacang
panjang, hasil berdesak-desakan saat mengabadikan momen seru ini. Sama seperti
warga lainnya yang memperebutkan gunungan, saya pun berharap berkah terus
tercurah ke saya sepanjang tahun ini. Lumayan, sebatang kacang panjang itu akan
saya simpan sebagai benda kenang-kenangan grebeg mulud di Yogyakarta :) [Inu]
 |
| Warga sudah menunggu gunungan dibawa ke Alun-alun Pakualaman |
0 komentar:
Posting Komentar